23 December 2013

Indira Chunda Thita Syahrul, srikandi dari Sulsel


Masyarakat di Sulawesi Selatan boleh berbangga hati karena memiliki “Srikandi” bernama Indira Chunda Thita Syahrul. britaloka.com/Effendy Wongso 


britaloka.com - Masyarakat di Sulawesi Selatan boleh berbangga hati karena memiliki “Srikandi” bernama Indira Chunda Thita Syahrul. Dengan bekal tekad untuk meningkatkan pembangunan di daerah selatan Pulau Sulawesi ini, wanita cantik kelahiran Jakarta, 17 April 1979 ini pun maju sebagai salah satu legislator muda mewakili Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN) di Komisi IV DPR RI yang membawahi bidang pertanian, perkebunan, kehutanan, kelautan, perikanan, dan pangan.
Jiwa kepemimpinan yang terpupuk dalam dirinya sejak kecil telah membentuk sosoknya menjadi wanita mandiri dan berbudi luhur. Hal itu terlihat dari kepercayaan masyarakat Sulsel yang memilihnya untuk menjadi legislator di Senayan (Jakarta), di mana pada Pemilu 2009 lalu wanita yang dipanggil dengan nama kecil Thita ini meraih suara sebanyak 35.697 di Sulsel, serta menempatkannya sebagai peraih suara terbanyak dan mengalahkan suara calon PAN lainnya pada waktu itu.
Ditemui di acara Rakernas XII Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) di Makassar beberapa waktu lalu, sulung dari tiga bersaudara pasangan Syahrul Yasin Limpo (Gubernur Sulsel) dan Ayunsri Harahap ini mengungkapkan komitmennya untuk memajukan masyarakat Sulsel sebisa mungkin lewat dedikasi maupun loyalitasnya semata negeri.
Berikut wawancara singkat britaloka.com dengan ibu dari Andi Tenri Bilang Radisyah Melati ini.

Apa kegiatan Anda saat ini?

“Saat ini saya sibuk fokus di DPR RI saja. Saya dari Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN) Komisi IV. Komisi ini membahas bidang pertanian, perkebunan, kehutanan, kelautan, perikanan, dan pangan.”

Sebagai anggota DPR RI yang berasal dari Sulsel, apa misi Anda untuk memajukan daerah ini ke depan?

“Ya, otomatis karena saya ada di sana (pusat), pasti amanat rakyat Sulsel terutama di kawasan timur Indonesia (KTI), akan lebih diperhatikan. Kebetulan juga saya di Komisi IV mewakili KTI, ya Insya Allah semua dapat diaspirasi. Apalagi Komisi IV ini kan mengurusi bagian pangan, ya paling tidak tak ada lagi yang lapar di negeri kita. Saya berharap Sulsel ini harus bangkit dengan sumber daya yang dimilikinya, seperti komoditas beras, jagung dan lain lain, atau panen-panen rakyat harus terus diperhatikan.”

Bagaimana Anda menyikapi masalah gender, khususnya untuk memajukan kaum perempuan di Sulsel?

“Saya melihat kemajuan perempuan di Sulsel ini sudah bagus sekali. Saya juga melihat remaja-remaja putri sudah termotivasi untuk membangun dirinya menjadi lebih baik, dan senantiasa melakukan kegiatan-kegiatan yang bermakna positif dalam masyarakat. Perempuan, khususnya kaum muda tidak ragu lagi untuk berkompetisi di kancah politik, bahkan di tingkat-tingkat nasional pun mereka sudah percaya diri bahwa perempuan juga bisa dan mampu membangun negeri ini.”

Apakah Anda telah memiliki suatu program untuk memajukan kaum perempuan, khususnya di Sulsel ini?

“Salah satu program untuk memajukan perempuan di Sulsel itu adalah seperti kegiatan IWAPI lalu. Di mana banyak home industry untuk perempuan di setiap rumah dapat hidup dan berjalan, sehingga tidak ada lagi perempuan dalam sebuah rumah tangga menganggur. Kodrat seorang perempuan sebagai ibu bagi anak-anak dan istri dari suaminya itu sudah pasti, akan tetapi perempuan juga tidak dituntut untuk ‘kaku’ sebagai ibu rumah tangga saja namun tetap dapat aktif dan berkarya. Momentum acara yang diselenggarakan oleh organisasi IWAPI ini memungkinkan seorang perempuan untuk dapat bekerja dan tidak menganggur.”

Boleh tahu, kenapa Anda tertarik dengan dunia politik?

“Keluarga saya adalah keluarga politik. Saya lahir dan dimatangkan dari keluarga dan lingkungan politik. Otomatis, mau tidak mau saya akan berkutat di sana. Bangun pagi pun, pasti pembicaraan kita politik. Jadi saya tertarik di situ juga karena semua yang kami lakukan, keluarga besar kami itu, semata-mata bukan untuk mencari uang. Bukan mau kaya, tetapi semata-mata pure, murni, tulus untuk pengabdian bagi rakyat.”

Bagaimana hubungan Anda dengan keluarga, terutama dengan ayah? Maaf, kita kan tahu Ayah Anda adalah seorang gubernur (Sulsel), dan dengan kesibukan beliau di pemerintahan, apakah Anda masih memiliki waktu dengan keluarga (ayah)?

“Oh, kita sangat dekat, sangat dekat. Saya dan ayah sangat dekat. Ayah saya memang sekarang menjabat sebagai Gubernur Sulsel, tetapi ia sangat memperhatikan keluarganya, terutama anak-anaknya. Kami masih sering berinteraksi, dan kalau memang kami tidak ketemu karena saya sedang di Jakarta, maka kita pasti telepon dan SMS tiap hari. Itu yang sering kami lakukan untuk tetap berkomunikasi dengan keluarga. Bukan hanya itu, hal tersebut pun saya lakukan dengan adik-adik saya, ataupun saudara-saudara ayah saya yang lain.”

Anda kan sekarang menetap di Jakarta? Nah, kegiatan apa yang Anda lakukan untuk mengisi waktu dengan keluarga?

“Saya pasti menyempatkan diri untuk meluangkan waktu dengan keluarga. Biasanya kita berkumpul bersama, paling tidak di meja makan. Kalau siang kita tidak bertemu, malamnya pasti bertemu. Tetap harus ada hubungan keluarga yang erat di kita, karena komunikasi, diskusi dengan keluarga saya anggap sangat penting sebagai pembelajaran, khususnya dari ayah saya. Mau (pembelajaran) politik, kehidupan, sosial, agama, itulah yang banyak diluangkan oleh ayah saya di meja makan.”

Figur ayah Anda sendiri, menurut Anda bagaimana? Apakah beliau merupakan salah satu tokoh terpenting dalam membentuk karakter diri Anda.

“Iya, pasti. Sebagai anak, saya bangga memiliki ayah seperti ia. Ayah merupakan sosok yang sangat saya banggakan, dan saya terpecut untuk dapat melebihi pencapaian yang telah digapai oleh ayah. Kalau bisa, saya ingin melampaui prestasi seperti yang ia punyai sekarang. Makanya, saya tetap harus belajar banyak dari ia, dan ia sering mengajarkan bahwa dinamika-dinamika kehidupan, baik sosial kemasyarakatan, ekonomi, maupun politik, itu berwarna. Jadi kita memang harus survive dan percaya diri, dan tidak lepas dari moral dan agama. Dengan begitu, Insya Allah kita bisa sukses.”

Terima kasih atas kesempatan wawancara yang Anda berikan. Sukses terus untuk Anda bersama keluarga.

“Sama-sama.”