29 December 2013

CERITA DARI RUMAH KARDUS

Oleh Effendy Wongso

Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu.
“Sudah lima anak bernyawa di sini,
Aku salah satu!”

Ibuku tertidur dalam tersedu,
Keramaian penjara sepi selalu,
Bapakku sendiri terbaring jemu
Matanya menatap orang tersalib di batu!

Sekeliling dunia bunuh diri!
Aku minta adik lagi pada
Ibu dan Bapakku, karena mereka berada
di luar hitungan: Kamar begini,
tiga kali empat meter, terlalu sempit buat meniup nyawa!

Chairil Anwar
Sebuah Kamar (1946)

Foto: Effendy Wongso
Sinar itu selalu mengusiknya. Sebelum segalanya sempurna dalam de­kap­an tidurnya yang damai. Tujuh tahun, entah. Mungkin lebih. Delapan ba­rang­kali. Ia tidak menghitung persisnya. Sinar itu mengiring langkahnya ber­an­jak de­­wasa. Kadang-kadang membuainya dengan hangat seperti seli­mut. Tapi juga mengu­sik­nya. Seperti pagi ini.
Ia menguap setelah mengucek-ucek mata. Dipannya masih terasa ha­ngat. Dan ada ketidakrelaan ketika sepasang kaki telanjangnya itu menyen­tuh lantai ta­nah yang dingin. Disibaknya sarung usang yang biasa dipakainya sebagai seli­mut. Ada cabikan kecil pada tepinya. Tidak terlalu jelek. Sarung itu konon di­bu­at di pedalaman Sulawesi Selatan. Dirajut secara tradisional dari kepom­pong ulat sutra. Lebih dikenal dengan nama sarung sutra Bugis.
Kisah tentang sarungnya itu sebenarnya tidak terlalu bagus. Ayahnya yang memberikannya tiga tahun lalu. Sehari sebelum Idul Fitri. Sarung itu me­ru­­pakan benda terbaik dan paling berharga yang pernah ia miliki. Tidak di­sang­ka merupakan pemberian terakhir dari lelaki yang sehari-hari menjadi tu­kang tambal ban itu. Mengingat semua itu ia seolah dihadap­kan pada layar ke­nangan de­­ngan skenario lara. Bukan hal yang menyenangkan memang. Tapi ki­sah itu ke­­rap hadir dalam kesendiriannya. Ketika Ibu berangkat kerja sebagai binatu ke­­liling. Ketika Lanang, kakak laki-lakinya pergi mengamen, atau sekali-kali men­­­jadi pengemis dengan menyewa bayi tetangga dengan upah satu nasi bung­kus.
Di luar sudah terdengar gaduh rutinitas. Ada derit roda pada katrol tim­ba pa­rigi. Ada bunyi desau air dari kamar mandi berdinding lepa. Ada de­bum kasur yang ditepuk-tepuk karena baru saja malam tadi diompoli oleh sang orok. Juga bu­­­nyi berirama kayuhan patah-patah becak gerobak peda­gang sayur. Setiap me­­lewati jalan becek di depan rumahnya, lelaki tua ber­ma­­ta cekung itu selalu ke­repotan. Ia harus turun dari sadel. Mendorong be­cak gerobaknya, sesekali menghindari tanah yang berlubang-lubang dan ber­lum­pur. Lalu setelah berhasil melewati jalan yang selalu menyusahkan­nya itu, ia akan mengumpat-umpat de­ngan kalimat yang tidak jelas. Tidak ada yang pernah mengerti. Termasuk pe­rem­puan gemuk penjual jamu gen­dong yang selalu ber­pa­pasan dengannya.
Atau, seorang perempuan muda dengan pakaian norak berwarna ma­nya­la separo terbuka yang baru pulang dengan mata sembap. Perempuan itu biasa di­panggil Tin si Kupu-kupu Malam. Tin adalah kependekan dari Tin­ne­ke. Sebe­tul­­nya bukan itu nama sebenarnya. Menurut orang-orang kampung di dekat Kali­jodo, perempuan itu aslinya ber­nama Tinah Suhartin. Dari Ja­wa. Namun sete­lah beradaptasi dengan kehidupan perkotaan, seperti bung­lon ia pun mengganti na­ma­nya. Juga penampilan­nya.
Dari jalan masuk sinar matahari itu pula ia dapat mengintip semua ke­­ja­dian pagi yang menjadi ritual harian orang-orang pinggiran. Lubang so­bekan pa­da dinding kardus rumah itu sebesar bola tenis. Samar masih ter­tang­kap buram gam­bar dan tipografi iklan sebuah rokok di sampingnya. Ada tam­balan poster di sana-sini. Wajah lama Michael Jackson yang masih ber­ku­lit hitam tampak me­ng­u­ning. Sementara gambar klasik pasangan bintang Nike Ar­dil­­la dan Hengky Tor­nan­do berlubang-lubang belel dan bolong tersundut api rokok.
Lubang itu tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil. Kalau ma­lam, ia dapat mengintip bintang-bintang di langit. Untuk rutinitas malam orang-orang kam­pung, ia tidak dapat lagi melihat apa-apa lagi selain keke­lam­an. Ti­dak ada apa-apa selain suara kodok atau sesekali gonggongan an­jing buluk mi­lik se­orang pemulung kayu peti asal Madura di kelokan gang sa­na.
Dari kejauhan terdengar pula ritme gerit roda besi pada sambungan-sam­bungan rel. Kereta api jurusan Jakarta-Depok seperti tidak ada habis-ha­bisnya. Se­tiap lima belas atau dua puluh menit sekali bunyi itu mengirama pa­da gen­dang telinganya. Suara itu juga kadang-kadang diimbuhi dengan bu­nyi serak da­ri sebuah radio tua milik tetangganya yang berjarak dua meter dari rumahnya. Pukul enam pagi tepat, siaran luar negeri BBC London pasti terdengar dari ge­lom­bang pendek radio transistornya. Tetangganya itu seo­rang purnawirawan ten­­ta­ra pada zaman Orde Lama. Semua bunyi terse­but mengirama seiring de­ngan usianya yang jalan tiga belas. Dan menjadi litani pada kehidupan­nya yang tawar.
Ia sudah terbiasa dengan ritme kehidupan yang sekian belas tahun di­ak­­rabinya. 

***

Siang tadi ia mendadak kedatangan tamu penting dari sebuah SMA yang berlokasi di Depok. Seorang siswi. Cantik. Kelihatan­nya anak orang kaya di ko­ta. Sebetulnya, bukan sengaja. Secara acak siswi itu menda­tangi ru­mah-rumah yang dianggap paling kumuh. Tidak layak untuk ditinggali. Termasuk di rumah­nya.
“Kamu sendiri?” ia bertanya, membuka pembicaraan setelah gadis tiga be­­las itu hanya menundukkan kepala dengan rupa gelisah. Ia duduk di amben belakang, menghadap keluar berseberangan dengan sebuah kanal de­ngan air­nya yang keruh.
“Orangtua kamu?”
“Bapak sudah meninggal, tiga tahun lalu. Ibu lagi kerja, nyuci baju di ru­mah ibu-ibu di kampung sebelah. Saya ditinggal sampai sore. Tidak boleh ikut. Mes­ti jaga rumah.”
Siswi itu mengerutkan keningnya. Melongokkan kepala ke arah da­lam rumah kardus yang disinggahinya. Diedarkannya matanya ke sekeli­ling ru­ang­an yang tidak lebih besar ketimbang toilet utama rumahnya di ‘Pondok In­dah’. Ini tidak layak disebut rumah. Di mana-mana beterbangan lalat dari tum­pukan sam­­pah tidak jauh dari tempat ia sekarang berada. Ia sama sekali tidak menye­but kata ‘rumah’ untuk tempat ini. Karena menurutnya, rumah yang ideal adalah ‘home’. Dalam rumah kategori itu ada keharmonisan dan ke­damaian su­a­sana. Tidak seperti di tempat ini. Sangat jorok dan tidak se­hat!
“Kamu tidak sekolah?”
“Tidak. Tapi, diajari baca sama Bang Lanang.”
“Siapa dia?”
“Kakak. Bang Lanang pernah sekolah. Tapi cuma sampai kelas lima SD sa­ja. Tidak sampai tamat.”
“Kenapa?”
Gadis itu kembali menundukkan kepala. Binar di matanya meredup. Ia nam­pak gelagapan.
“Bapak keburu meninggal, Kak.”
Siswi itu terhenyak sesaat. Tapi diuraikannya sebuah senyum pak­­sa, meng­­gebah rasa iba yang menyeruak mendadak. Ia sangat prihatin de­­ngan kon­di­si yang dilihatnya.
“Kamu boleh panggil nama saya. Wulan. Kalau kamu?”
“Lintang, Kak.”
“Hm, Lintang pernah kepikiran untuk sekolah tidak?”
“Ingin sekali. Tapi, biaya sekolah mahal….”
Wulan menghela napas. Kalimat lugu yang disampaikan Lintang ba­rusan memang merupakan refleksitas kehidupan yang sebenar-benarnya. Bah­wa be­tapa banyak kepincangan yang membumi di Nusantara ini.
“Lintang pernah menabung untuk dapat sekolah. Tapi….”
“Tapi kenapa?”
Gadis berambut kusam itu menggigit pelepah bibirnya. “Tapi Ibu ma­rah. Ibu bilang, Lintang jangan berkhayal dapat sekolah. Karena untuk ma­kan seha­ri-hari saja susahnya minta ampun.”
“Ibumu bilang begitu?”
“Ya.”
“Lintang kecewa?”
Gadis kecil itu menggeleng. “Tidak, Kak. Lintang sadar, setelah Bapak me­ninggal, untuk makan nasi bungkus saja kadang-kadang Ibu mesti menge­mis di Mpok Minah, pemilik warung nasi di sebelah rumah.”
“Jadi, selama ini apa Lintang tidak punya cita-cita?”
Gadis itu tersenyum samar. “Cita-cita Lintang hanya satu, Kak. Pingin ja­di orang kaya!”
Wulan meneguk ludahnya yang terasa memahit. Ini tugas paling berat un­­tuk bahan makalah Lingkungan Hidup yang dipilihnya. Seha­rus­nya ia tidak boleh terbawa perasaan begitu. Sebab hal itu dapat menggang­gu konsen­tra­si­nya. Bahan tulisannya bakal tidak obyektif lagi.
“Kak Wulan anak gedongan, ya?”
Wulan membeliak. Terkejut dengan pertanyaan dadakan dari Lintang. Ia kemekmek. Entah harus menjawab apa.
“Tidak juga. Tapi, keluarga Kak Lintang tidak susah-susah banget se­per­­ti….”
“Aduh, enak ya jadi orang kaya?”
“Ti-tidak selamanya….”
“Siapa bilang tidak enak? Buktinya Bapak meninggal karena ingin men­­ja­di orang kaya….”
“Se-sebenarnya, bagaimana kematian Bapak kamu itu….”
“Persisnya, Lintang tidak tahu, Kak! Tapi, seminggu sebelum Bapak me­­­ning­gal, Lintang pernah dengar Ibu bertengkar dengan Bapak. Kalau tidak sa­­lah dengar, Ibu bilang tidak setuju kalau Bapak ikut Kelompok Kapak Me­rah!”
Wulan nyaris kelengar. Kelompok Kapak Merah?! Bukankah….
“Dari Ibu, Lintang tahu kalau Kelompok Kapak Merah itu merupakan per­­kum­­pulan orang-orang yang sering merampok dan memalak orang-orang kaya bermobil di jalanan.”
“Tapi, kenapa Bapak Lintang sampai terlibat?”
“Kata Ibu, Bapak terpengaruh. Waktu Lintang masih bayi, rumah gu­buk kami di Kedungumbo kena gusur secara paksa. Bapak marah, menyim­pan den­dam sampai se­ki­an tahun. Beserta beberapa sahabatnya, Bapak ber­gabung de­ngan Kelompok Kapak Merah. Bapak bilang sama Ibu sebelum me­ninggal, bahwa dia berjanji hanya akan merampok para pejabat korup saja, yang sudah diincar cermat jauh-jauh hari.”
“Tapi, pada kenyataannya Kelompok Kapak Merah itu semakin mere­sah­­kan masyarakat Jakarta, Lintang! Semuanya disikat. Tanpa pandang bulu. Bu­kan­­­nya hanya para pejabat korup saja.”
“Hal itu Lintang tidak mengerti, Kak. Tapi, kata Ibu, sampai di akhir hi­­dupnya pun Bapak tidak pernah mengingkari janjinya. Setiap melaksana­kan ak­si­nya, Ba­pak selalu berusaha menghindari melukai, terlebih-lebih membunuh kor­­­­bannya. Lagipula, uang hasil rampasan itu pun tidak pernah dipakai untuk ber­­foya-foya lazimnya perampok lain. Lintang pernah melihat sendiri Bapak mem­­bagi-bagikan jatah uang­­nya untuk tetangga-tetangga yang tidak dapat ma­kan hari itu, kok!”
“Ta-tapi….”
“Bapak seperti Robin Hood ya, Kak?”
“Tapi….”
“Lintang tahu dari Bang Lanang, katanya, menurut koran-koran, apa yang dilakukan Bapak itu salah besar menurut hukum. Tapi, kalau begitu, ke­na­pa tidak ada sanksi untuk para pejabat korup itu? Bukankah kejahatan mereka le­­bih besar ketimbang aksi Bapak yang dilakukan cuma demi sesuap nasi?”
“Ta-tapi….”
“Kadang-kadang Lintang tidak habis pikir, Kak. Dunia ini rasanya tidak adil. Bapak yang berjuang demi keluarga dan sesuap nasi, akhirnya mati me­nge­naskan, kena tembak polisi dalam sebuah aksinya. Sementara para ko­rup­tor itu melenggang bebas….”
Wulan terlongong mendengarkan ulasan gadis yang baru tumbuh re­ma­ja itu. Mulutnya seolah dibekap. Membungkam setiap perbendaharaan kalimat yang hendak terlontar. Ia mematung dengan beragam pikiran yang berkecamuk di benak. Tiba-tiba ia teringat kejahatan kerah putih yang ter­jadi di Tanah Air. Sebegitu parahkah penyakit lama bangsa be­sar ini?!
Ia menggigit bibir. Ini refleksitas!
Lalu gadis tiga SMA itu pamit undur. Ia berjanji akan da­tang esok. Bahan untuk makalahnya memang masih jauh dari cu­­kup. Di­ra­sa­kan­nya langkahnya mem­berat ketika melewati gugusan rumah kardus di per­kam­pungan kumuh ter­sebut.
Hatinya gamang. (blogkatahatiku.blogspot.com)