27 December 2013

AVALOKITESVARA BODHISATVA



Oleh Weni Lauwdy Ratana

Guan Yin Pu Sha merupakan sosok totem yang sangat dipuja dalam masyarakat Tiongkok meski di dalam kepercayaan buddhisme sosok maharesi ini yang disebut juga Avalokitesvara Bodhisatva. Ia terlahir dari sebuah keluarga kerajaan yang terletak di salah satu daerah perbatasan Tiongkok dan Jambudhipa, kini India. Ia mengaplikasin kebajikan dan welas asihnya kepada semua umat manusia. Tanpa pamrih dan penuh ketulusan. 

***

Guan Yin  berharfiah ‘Maha Mendengar Derita para Jelata’ merupakan salah satu sosok totem yang sangat luhur dan berhati lembut. Ia rela mengorbankan jiwa dan raganya demi menolong manusia yang tengah dilanda musibah. Ia pasti akan menolong manusia yang tengah menderita jika benar-benar dan sungguh-sungguh berdoa memohon kehadiratnya.
Pada kekuasaan Dinasti Han, ia merupakan putri ketiga Kaisar Miao Zhuang yang bernama Putri Miao Shan. Setelah melalui serangkaian perbuatan baik maka ia mencapai ‘pencerahan’ menjadi dewi Langit. Namun sesungguhnya, tidak dengan sertamerta ia meraih puak terhormat Langit. Dan ihwalnya adalah Shung Ma Tong, sang Pangeran yang hidup di Jambudipa, kinia India. Lalu selang kekalpa berikutnya, ia dulunya adalah sesosok dewa reinkarnasis Po Luo Men yang sangat dihormati.
Jadi Shung Ma Tong dan Po Lue Men adalah replikasi yang menggandakan diri menjadi dua dan melaik demi pengabdian kemanusiaan yang diamanati Langit. Mereka lalu menjelma jelata dalam berbagai versinasi, melarung di dalam penderitaan itu sendiri. Mengobati sang Pesakit. Menyembuhkan sang Terluka. Mengusir sang Pebatil. Dan mengurniai sang Pebajik. Lalu dalam guliran kekalpa, pengejewantahan kebajikan mengubah ‘mereka’ dalam lentuk-lentuk figur yang sampai saat ini dikenang sebagai Guan Yin dan Da Shi Zhi. Mereka kemudian menjadi bentara bagi Amitabha Tataghata yang masing-masing mengapit di sebelah kiri dan kanan. Mereka bertiga kerap disebut Trinitas Xi Fang San Sheng, Si Pembawa Berkah Kebajikan nan Welas Asih, yang akan mengurus pengetahuan akan kesadaran dan kebaikan.
Replikasi reinkarnasis yang jelmais dalam bentuk-bentuk kelahiran pernah menakdirkan Guan Yin sebaai seorang laki-laki dan perempuan. Ihwal sosoknya yang lelaki pernah berlaku selama menjalani reinkarnasis dalam suatu masa, dan sebaliknya dalam suatu masa pula ia pernah jelma perempuan. Pada saat menjadi putri ketiga Kaisar Miao Zhuang, ia mereplika perempuan dan saat itu, saat mencapai ‘pencerahan’, ia mendapat gelar Qiang Shou Guan Yin atau Guan Yin Dewi Tangan Seribu. Dikisahkan pula saat menjelata, ia akan dapat mereplik dirinya dalam tigapuluh tiga bentuk. Dalam masa kekuasaan Dinasti Yuan, melegendalah sosok Guan Yin sebagai salah satu totem terpopuler sehingga ia menjadi simbolik welas asih yang dirunuti sebagai si Dewi Anggun Beraura Putih dari berbagai aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sejak itu pulalah polemik yang terjadi dalam masyarakat Tionghoa sendiri yang menyatakan bahwa apakah Guan Yin adalah perempuan atau lelaki lantak sudah oleh satu hal:
Maharesi Guan Yin adalah replika kebajikan yang ditakdirkan Langit untuk dapat mengubah sosoknya menjadi perempuan dan lelaki. Dan jika yang paham akan siklus reinkarnasi, bahwa hal tersebut merupakan lumrah dan kegaliban yang terjadi pada semua makhluk hidup!

***

Namun lepas dari semua polemik yang berkembang baur, sosok Guan Yin yang mengultus adalah ketika ia jelma Putri Miao Shan, putri ketiga dari Kaisar Miao Zhuang. Alkian sewaktu buddhisme merambah ranah Tionggoan, ajaran moralitas tersebut berasimilasi dengan kebudayaan besar Han di sana. Sosok Miao Shan melamur dan diversikan dalam gambaran ala Han. Maka Guan Yin pun melamur dalam tatanan masyarakat setempat. Ia yang kental menuansa Jambudhipa di-Tionggoan-kan supaya dapat terselami oleh pencerapan benak masyarakat Tionghoa kala itu.
Tersebulah dalam versi ala Han bahwa saat Miao Shan memutuskan menjadi biksuni, maka sang Ayahanda Kaisar Miao Zhuang tidak setuju dan memerintahkan putri ketiganya itu untuk bunuh dir saja. Pedang diangsurkan pada putri bungsunya itu untuk melaksanakan harakiri. Namun keajaiban seolah diturunkan Langit, pedang yang merancap pada dadanya malah patah berkeping-keping, dan sama sekali tidak melukai Putri Miao Shan. Setelah upaya pembunuhan diri putri yang berhati luhur itu gagal, maka ia diusir dan diasingkan ke sebuah daerah perbukitan. Di sana, Putri Miao Shan benar-benar mendalami inti kebajikan dari semedi yang dilakukannya. Jelang beberapa waktu dalam masa permenungan yang dilaluinya dengan sungguh-sungguh, maka ia pun mencapai ‘pencerahan’.
Waktu yang berlalu demikian cepat kembali memanggilnya pulang. Kala itu sang Ayahanda dirundung sakit. Tak ada tabib yang dapat menyembuhkan Sang Kaisar. Maka menjelmalah Putri Miao Shan sebagai biksuni tabib, dan mengatakan jika obat mujarab yang dapat menyembuhkan Sang Kaisar hanyalah jejamu yang dicampur dengan bagian potongan otot dan bola mata cungkilan dari darah dagingnya sendiri.
Maka Putri Miao Shan kembali menjelma sebagai dirinya kembali, dan rela melakukan pengorbanan itu demi kesembuhan sang Ayahanda yang pernah menampiknya. Di situ pulalah ihwal ia menjadi Dewi Tangan Seribu. Ketika sang Ayahanda menitah pembuatan sebuah rupam bagi putrinya yang kelana, maka aplikasi tersebut diterjemahkan salah oleh perupa terbaik di negeri Han. Deskripsi kekeliruan pembuatan rupam itu melegenda, dan malah mewangi menjadi seribu tangan kebajikan dan seribu mata kearifan. (blogkatahatiku.blogspot.com)