26 October 2013

PANGGIL AKU MAWAR

Oleh Effendy Wongso

Foto: Effendy Wongso
Prolog
           
Namaku Linda. Lindawati Tandean. Saat ini aku masih kelas dua SMA. Meski demikian, anak-anak menganggapku yang yunior ini sebagai pemimpin mereka. Tidak Ketua Osis, tidak Ketua Kelas. Pokoknya, dalam hal apa saja aku selalu dijadikan tokoh panutan. Aku tidak tahu pesona apa yang aku miliki sehingga mereka selalu menempatkan aku pada posisi pemimpin. Cuma yang aku tahu, mereka bilang aku selalu bersikap adil dan tidak sok toku. Entahlah. Yang pasti aku hanya mengikuti kata hatiku. Dan tidak tahan melihat mereka yang lemah tertindas oleh yang kuat.
Nah, sahabat. Aku punya stori tentang itu. Aku akan menceritakannya. Bukan sebagai obyek bahan kebanggaan tentang sifatku yang dikagumi oleh teman-temanku, tapi hanyalah sebagai pengalaman agar dapat berlaku jujur. Bekal kebajikan bagi kita kelak.
Namun lebih dari itu semua, aku menemukan satu arti yang hakiki. Bahwa nilai persahabatan jauh lebih murni ketimbang apapun juga.

***

Gerakannya gemulai. Lebih luwes bahkan dari beberapa gadis balerina peserta pentas akbar se-SMA di Makassar nanti. Sungguh merupakan penokohan rumit di luar limit naratif yang seperti sudah ditentukan dari langit!
“Mawar!”
“Hai, Linda Sayang!”
Saya sedikit risih setiap tangan Mawar menyentuh bahu saya. Kebiasaannya yang sudah terbawa sejak bahkan dari orok. Sebenarnya saya tidak suka. Tapi mau apa? Toh saya tidak bisa memprotesnya, karena dia lebih memilih masuk ke dalam kaum kami.
“Bagaimana latihannya?” tanya saya berbasa-basi.
“Ufh, ike capek minta amplop deh!”
Saya tersenyum. Sebuah rutinitas separo paksa. Makhluk setengah cowok setengah cewek bernama waria ini sebetulnya menyenangkan juga. Dia kadang-kadang menjadi narator aktif geng kami. Kalau sudah bicara seperti ketel uap. Ramai seperti pasar.
“Lin….”
“What?”
“Besok ke mal, yuk!”
“Ngapain?”
“Mau berburu macan!”
“Hah?!”
“Lin, Lin. Memangnya mau ngapain?! Ya, shopping dong!”
“Saya lagi sibuk. Lagian, pertunjukan tinggal seminggu lagi. Kita harus latihan.”
“Dih, ike benci deh! Latihan melulu. Memangnya kalau jeda barang satu hari saja ‘Anna Karenina’-nya bakal lari, apa?”
Saya kembali mengembangkan bibir. Anna Karenina yang dia maksud merupakan tokoh perempuan yang bakal diperankan oleh Joshepine Bunga, teman kami. Anna Karenina merupakan tokoh protagonis pada sebuah novel karya Tolstoy, pengarang besar asal Rusia, yang sukses diangkat menjadi tema-tema dalam pertunjukan teater maupun balet di mancanegara.
“Pentas nanti itu akbar, Mawar. Kita tidak boleh main-main.”
“Idih, siapa juga yang bilang pentas nanti kecil? Lagian, siapa juga yang main-main? Ike kan cuma mau istirahat. Bete, tahu?”
“Capek sedikit kan tidak apa-apa. Lagian, pertunjukan akbar begini jarang-jarang ada.”
“Iya, sih. Tapi….”
“Sudahlah, War. Kalau sukses, geng kita juga yang untung, kan? Kamu pikir siapa?”
“Ember.”
“Makanya.”
“Hm, kalau ike terkenal en kondang, ike bisa jadi bintang sinetron dong, Lin?”
“Tentu saja.”
“Main bareng Nicholas Saputra?! Auh! Asyik banget!”
“Iya, kalau penampilan kamu nanti bagus. Makanya, mulai dari sekarang latihannya yang serius dan ulet, dong!”
“Oke, deh!”
Mawar mengedipkan matanya dengan tengil. Kelakuannya yang ganjen bikin saya terkikik. Cara jalannya melebihi perempuan, lebih melenggok ketimbang bebek. Lucu. Tapi meski begitu, dia merupakan bagian dari geng kami. Bagi kami, lepas dari jelek-buruk serta ambiguitas sosoknya sebagai manusia yang utuh, ibarat organ tubuh, Mawar Larasanti¾demikian nama samarannya, adalah bagian yang tak terpisahkan.
“Jadi….”
“Jadi acara ke malnya ditunda saja ya, Lin. Sehabis mentas, nah baru kita ngacir ke mal. Dan, SHOPPIIIINGG habis!”
Saya terbahak.

***

“Lindawati Tandean.”
“Ya. Saya.”
“Eliana Boy Tarampa.”
“Yap!”
“Nadita….”
“Hadir!”
“Agustinus Trimawarto.”
“Ike bo!”
“Agustinus Trimawarto!”
“Ike, oiiii….”
“Agustinus Trimawarto, ada tidak?!”
Saya terkikik. Indra pangling. Saya menarik tubuh jangkung Mawar ke depan barisan. Cowok salah satu panitia penyelenggara balet tingkat SMA se-Makassar itu terkesiap. Kertas daftar nama peserta balet geng saya jatuh tanpa disengaja dari tangannya. Saya mengerutkan dahi.
“A-Agustinus Tri….”
“Mawar!” Mawar tunjuk jari, menyembulkan barisan giginya yang rapi. Masih seperti kebiasaannya, gaya khas waria.
“Kamu Agustinus?!”
“Yoi. Eh, ada apa sih? Ike cakep ya, sampai yei terpana gitchu?!”
Indra mendengus. Mengalihkan wajahnya. Dia tampak kikuk. Ditelusurinya kembali daftar nama yang telah dipungutnya dari lantai.
“Joshepine Bunga?”
“Saya.”
“Tanti Prastika!”
“Ada.”
“Terakhir, Eva Roring.”
“Yap.”

***

Keputusan itu bagai petir di pendengaran saya. Mawar dicoret dalam daftar keanggotaan. Tanpa alasan yang jelas. Indra mengetukkan palu amanat yang membuat darah saya menggelegak!
“Saya tidak ingin pentas akbar nanti direcoki oleh satu jenis manusia yang tidak beridentitas jelas!”
Ya, Tuhan!
“Kamu tidak bisa bertindak gegabah dan tidak fair begitu dong, Indra!”
“Saya sudah bertindak fair dengan memberi kalian kebebasan memilih anggota yang layak sebagai balerina untuk pentas nanti!”
“Mawar….”
“Heh, nama bagus kok diganti-ganti. Agustinus Trimawarto menjadi Mawar?! Lucu!”
“Dia sudah menunjukkan eksistensi sebagai balerina andal. Kami sudah menghabiskan dua bulan latihan dan persiapan untuk pentas!”
“Heh, dipikirnya hanya dengan latihan yang tekun maka dia dapat menjadi balerina te-o-pe be-ge-te?! Sori, suruh dia enyahkan saja cita-citanya yang setinggi langit itu, Lin!”
“Kamu tidak objektif!”
“Tidak perlu kacamata objektif segala macam untuk manusia jenis separo itu!”
“Ka-kamu…!”
Sumpah!
Rasanya saya ingin menampar mukanya yang pongah itu!
“Lagian, untuk apa mempertahankan anak itu?!” Indra berkacak pinggang seperti wayang golek. “Memangnya balerina hanya dia seorang?!”
Saya tidak dapat menahan emosi. “Ngomong kok seperti muntah?! Tidak pakai seleksi otak!”
“Pokoknya saya ingin pentas nanti steril dari kuman.”
“Kuman biang perusak pentas itu kamu, Indra! Bukan Mawar!”
“Oya?!”
“Saya heran orang sekeji kamu kok dapat menjadi panitia. Sama sekali tidak bernurani!”
“Terserah! Ngotot si Bancimu itu ikut dengan konsekuensi gengmu tercoret, atau….”
“Saya akan mengajukan protes ke Ketua Panitia!”
“Percuma! Kami panitia sudah sepakat dengan keputusan mencoret nama si Banci itu!”
“Ka-kamu keterlaluan!”
“So, pilih coret dia atau semua anggota gengmu terberangus!”
Saya mengatupkan geraham. Cowok itu sudah tidak rasional dalam mengambil keputusan. Keterlaluan. Saya benci melihat wajahnya yang kekanak-kanakan itu!
“Saya pilih mundur!”

***

“Kalian harus tetap ikut, Lin.”
“Saya sudah putuskan untuk mundur!”
“Aduh, jangan. Biar ike berkorban, deh!”
“Kamu adalah bagian dari geng kita.”
“Tapi, ini pentas akbar lho, Lin. Jangan buang kesempatan bagus untuk tunjukin kebolehan geng kita.”
“Harapan saya sudah punah begitu melihat muka anak tidak punya hati itu, War!”
“Tapi….”
“Sudahlah. Kamu jangan cemas begitu, dong. Dunia masih tetap berputar kan, kalau geng kita tidak ikut pentas?”
“Iya, sih. Tapi, ike sedih banget!”
“Kenapa?”
“Semuanya gara-gara ike, ih!” Mawar menampar pipinya sendiri. “Ike benci deh, diri ike ini!”
Saya genggam tangan Mawar. Dia menitikkan airmata. Menjatuhkan kepalanya di pundak saya. Sesenggukan dengan tubuh bergetar.
“Jangan begitu, Mawar. Kamu jangan menyalahkan diri sendiri.”
“Tapi, ini juga gara-gara ike yang bencong ini!”
“Memangnya kenapa?”
“Ik-ike ingin nor-normal juga, Lin. Ta-tapi, tidak bisa! Tidak bisa!”
Saya belai rambutnya yang mayang. “Sudahlah.”
“Semuanya memusuhi ike! Semuanya menjauhi ike! Tidak ada yang pernah menganggap ike sebagai manusia normal. Bahkan orangtua ike sendiri membenci diri ike ini! Apa tidak ada tempat untuk ike ini, Lin?!”
“Siapa bilang? Buktinya, kamu kami anggap sebagai saudara, kan? Dan, lihat buktinya. Geng kita lebih memilih mundur dari pentas akbar itu ketimbang kalau kamu tidak ikut karena dicoret dalam daftar anggota!”
Airmata Mawar menderas.
“Tengkyu, Lin! Hanya yei satu-satunya sahabat setia ike!”
“Tentu, tentu.”
“Dan cuma yei yang tetap panggil ike dengan nama Mawar!”
Saya mengangguk. Mendadak merasakan kepedihan Mawar yang seperti tak berujung. Entah kapan dunia dapat menerima kehadirannya. Utuh sebagai manusia. Makhluk paling mulia ciptaan Sang Khalik. (blogkatahatiku.blogspot.com)