10 December 2015

Mawar Tanpa Lara

BLOGKATAHATIKU/ANITA ANNY
Mawar Tanpa Lara
Oleh Effendy Wongso

 Prolog

 Ada suara sitar yang terdengar mengalun perlahan. Samar pula didengarnya suara sang biduan tengah melantunkan elegi. Sebuah syair ratapan tentang lara….

Angin tak pernah membawa berita
Tentang sekawanan kesatria berkuda
Hanya ada tapak-tapak kecil menggelinjang
Berderap-derap ditabuhi irama rebana
Dengan gemerincing sitar-sitar selaksana pedangnya

Setangkai mawar berkisah
Tentang semerbaknya jiwa-jiwa yang hilang
Melayang entah ke mana
Berkelana melanglang buana

Dewiku yang Agung telah tertidur
Ini aubade tentang surga
Ketika tetes lara dari sepasang mata menjadi bulir permata
Cerita tak akan pernah mati

“Ja-jangan pergi, Odina!”
Odija terjaga. Ini adalah malam ketiga dia bermimpi tentang wanita biduan dari masa lalu. Dari masa lalu, sebab semuanya terasa asing dan lawas. Dan dia seolah terseret ke dalam pusaran waktu, menghadirkan serangkaian kisah kasatmata yang dia sendiri tidak mengerti.
Dihapusnya keringat yang menitik di dahi. Dinyalakannya lampu meja dengan sekali sentuh. Suasana kamar sepi, jendela masih terbuka. Di luar sana, angin bertiup sayup. Tiga dini hari mulai menyebarkan kabut. Kaca jendelanya dihinggapi embun. Dia menggigil sembari memeluk lutut.
Digigitnya bibir. Matanya masih memejam, berusaha mengingat-ingat jalinan kisah dalam mimpinya tersebut. Wanita itu begitu anggun. Setiap saat memeluk sitarnya dengan sikap gemulai.
“Odija Sun Chatnapong….”
Ada suara serupa desis yang menggugah lamunannya. Dia berpaling. Erika tengah berdiri di bawah bingkai pintu. Menatapnya dengan rupa cemas. Lalu gadis itu mendekat dengan langkah jinjit. Duduk di gigir ranjang. Membelai rambut mayangnya.
“Sudahlah….”
Odija masih mematung. Airmatanya mulai menitik. Tubuhnya gemetar. Dipereratnya dekapan pada lutut. Entah harus berbuat apa.
“Aku dengar jeritanmu. Kamu mimpi buruk lagi?”
“Wanita itu….”
“Cuma bunga tidur. Kamu terlalu terobsesi dengan….”
“Ta-tapi Odina tidak seharusnya….”
“Ikhlaskan dia, Odija!”
“Belum saatnya dia….”
“Aku tahu. Tapi….”
“Dia masih terlalu muda.”
“Ya, ya. Tapi, semua itu sudah ajal.”
“Odina….”
Erika menggeleng. Gadis itu belum tawakal menerima kenyataan pahit itu. Kematian saudara kembarnya telah memasungnya dalam lara tak berujung. Malam-malamnya bersenandungkan tangis.
Kehilangan itu demikian menyakitkan!

***

Medio Agustus, 2003
Chao Phraya River, Bangkok

Gadis itu sertamerta ber-anjali (1) ketika berpapasan dengan seorang bikkhu (2) di tepi Sungai Chao Phraya. Sudah menjadi tradisi yang mendarah daging bila bertemu dengan kaum sangha (3) berjubah kuning. Mau tidak mau dia harus beradaptasi kalau tidak ingin dikatakan tidak tahu aturan.
Sudah tiga minggu dia di Bangkok, Thailand. Sebagai duta pelajar pertukaran remaja ASEAN, khususnya Indonesia-Thailand. Menjadi duta pelajar memang bukan hal yang gampang. Ada bekal hasil kerja keras dan belajar sungguh-sungguh yang melatarbelakangi kesuksesannya hingga dapat menyandang predikat membanggakan itu. Sebagai siswa teladan di sekolahnya, dia memang pantas meraih satu tiket keberhasilan. Mewakili para pelajar Indonesia ke Negeri Gajah Putih tersebut.
Selain belajar mengenal lebih dekat kebudayaan Thailand, Erika Merry Sianipar juga banyak mengunjungi situs-situs bersejarah di sana. Dan dia dibimbing langsung si Kembar Chatnapong bersaudara, Odija Sun Chatnapong dan Odina Sun Chatnapong. Kedua gadis itu sangat menyenangkan. Ke mana-mana, kedua gadis kembar itu selalu menjadi guide-nya. Kadang-kadang pula mengajarinya menulis dan berbahasa Pali (4).
Meski kembar, tapi mereka bagai pinang dibelah seratus alias tidak pernah dapat kompakan. Seperti dua kutub yang berbeda. Odija feminim, kalem berambut panjang. Sementara Odina tomboi, dinamis berambut pendek. Bila jalan bareng, mereka selalu bertengkar seperti kucing dan tikus. Meskipun sering bertengkar namun sebenarnya mereka saling mengasihi.
“Kami tumbuh bareng di Brahma Magga.” Odija menjelaskan perihal masa kecilnya bersama Odina, menggebah kejenuhan menunggu barkas yang bakal merapat di dermaga.
“Brahma Magga?”
“Itu nama panti asuhan di Chiang Mai.”
“Jadi, kalian….”
“Kami ini anak yatim piatu, Erika.”
“Baru aku tahu, pantas….”
“Pantas kamu tidak pernah melihat orangtua kami, kan?”
“He-eh.”
“Mereka sudah meninggal sejak kami masih bayi. Kata Lung (5) Khakaor….”
“Siapa dia?”
“Kakek. Sejak ayah dan ibuku meninggal secara misterius di Cape Town, tinggal beliaulah satu-satunya keluarga sedarah kami. Setelah kurang lebih tiga tahun tinggal di panti asuhan, Lung Khakaor membawa kami ke Bangkok, memelihara dan menyekolahkan kami sampai sekarang di sini.”
“Orangtuamu meninggal secara misterius? Maksudmu…?”
Odija termangu. Ditelannya ludahnya yang memahit dengan susah payah. Dia belum menjawabi pertanyaan Erika. Matanya menerawang. Menatap punggung Odina yang menirus di bibir sungai. Menunggu barkas yang akan mereka tumpangi untuk menjelajahi keindahan Sungai Chao Phraya.
“Sebenarnya aku tidak tahu pasti. Berita tentang kematian kedua orangtuaku itu simpang siur. Kata orang-orang kampungku di Chiang Mai, mereka meninggal lantaran kena teluh, disantet dan diguna-guna oleh seseorang di Afrika karena prahara bisnis.”
“Prahara bisnis?”
“Ya. Orangtuaku merupakan eksportir, pemasok beras Thailand ke Afrika Selatan. Kata mereka lagi, ayah dan ibuku telah merebut pasar mereka di bidang agrobisnis sehingga rekanan bisnis mereka di Afrika Selatan itu dendam dan berniat menghabisi hidup orangtuaku itu.”
“Tapi, apakah kamu pernah melihat jasad mereka?”
“Kami masih terlalu kecil waktu itu. Tapi, kata orang-orang kampungku, jasad orangtuaku tidak pernah kembali lagi, dan kemungkinan besar memang sudah meninggal serta dikuburkan di sana.”
“Kamu tidak pernah mencari tahu?”
“Keseringan. Tapi, hasil pastinya selalu nihil. Namun, setahun lalu aku ngecek ke Kedubes Afrika Selatan di sini. Ada kabar terang….”
“Apa itu?”
“Katanya, Shongsak Sun Chatnapong dan Aun A Nong Swartwong, nama kedua orangtuaku, meninggal di Cape Town karena diserang penyakit misterius. Nama penyakitnya adalah river blindness atau onchocerciasis.”
“Aku baru mendengar nama penyakit begituan. Apa seperti SARS?”
“Bukan. Penyakit itu merupakan sejenis penyakit kebutaan dengan gejala awal mata gatal-gatal, luka, lalu cacat. Di Benua Afrika, penyakit ini mulanya dijumpai di sekitar Gurun Sahara. Sekarang penyakit ini merebak dan telah merenggut banyak nyawa orang Afrika. Menurut mereka lagi, epidemi penyakit ini disebabkan oleh parasit yang dibawa oleh lalat hitam yang hidup di sungai. Kotoran dari lalat hitam itu mengandung parasit dan tertinggal di tubuh manusia lewat gigitannya. Jadi, kasusnya mirip penyakit malaria yang disebarkan oleh nyamuk di Benua Asia, khususnya di Asia Tenggara.”
“Lalu, sebenarnya kematian orangtuamu yang mana?”
“Aku bimbang. Tapi, kamu tahu kan kalau di Thailand ini sendiri masih banyak terjadi hal-hal yang irasional.”
“Jadi, kamu lebih percaya kasus magis ketimbang kasus medis….”
“Bukannya begitu, Erika. Tapi… hei, kok kitanya jadi berkisah tentang dunia gaib dan dunia medikal begitu, sih? Padahal….”
“Padahal, kita ingin bersenang-senang di Chao Phraya!” Odina nyeletuk dari belakang, menyalib perbincangan mereka. “Dan barkasnya sudah menanti sedari tadi. Ayo, cepetan!”
Ketiga gadis itu berhamburan menuju barkas. Di dalam barkas, sudah tampak berjejal turis-turis asing yang ingin menikmati cerahnya pagi di Sungai Chao Phraya.

***

“Harfiahnya, Chao Phraya berarti Sungai Raja. Buktinya, Chao Phraya ini memang merupakan sungai utama di Thailand. Hm, kalau suatu saat kamu datang bersama keluarga ke Bangkok lagi, jangan sampai lupa bertamasya ke sini. Selain naik barkas, kamu juga bisa naik taksi air berupa perahu atau sampan kecil bermotor mengarungi sungai ini.”
Odija mulai menjalankan tugasnya sebagai guide pribadi Erika. Sejak berkenalan di sekolah dan pas tinggal sekamar dengannya di asrama, gadis berparas manis itu memang kelihatan sangat akrab dengan gadis Batak asal Jakarta itu.
“Selain itu, kamu bisa menyinggahi ratusan wat (6) yang tersebar di pinggir--pinggir sungai. Masing-masing wat mempunyai keunikan arsitektur tersendiri. Eh, itu Wat Arun yang elok,” timpal Odina dengan bersemangat sembari menunjuk sebuah menara vihara, persis di bagian belakang Istana Raja ‘Grand Palace’. “Turis bule sih menyebutnya ‘Temple of Dawn’. Keren, kan?”
“Besar sekali, ya?”
“Tentu saja. Wat Arun kan merupakan vihara yang sering dikunjungi Raja Bhumibol dan Putri Sirkit serta keluarga besar Kerajaan Thai. Eh, kamu juga bisa menikmati buah-buahan segar yang dijual di pasar terapung di sini. Hei, kamu sudah pernah makan durian bangkok tidak?”
Odina menambahi dengan nada bangga tentang tempat dan hasil bumi wisata di daerahnya ketika barkas yang mereka tumpangi perlahan menyusuri hamparan air sungai yang tenang. Kehidupan desa-desa yang mereka lalui tampak dengan jelas dari tempat mereka bersantai di geladak barkas. Bau masakan dari rumah-rumah panggung mengaroma sampai ke barkas. Erika sempat menghirup bau wangi makanan. Asap nasi uduk sesekali menusuk hidungnya. Iseng pula dia menghitung jumlah vihara yang mereka lalui. Banyak sekali. Populasinya mirip dengan masjid serta mushola di Indonesia, tebaknya. Anak-anak mandi telanjang dan bermain di tepi sungai. Sementara ibu-ibu mereka mencuci pakaian dengan hanya mengenakan bra dan sarung.
“Eh, tahu tidak nama barkas atau kapal api kecil ini, Erika?”
“Apa?” Erika berdiri di batas pagar kayu barkas, berusaha melihat lambung barkas.
“Namanya, ‘Dhamma Palakka Song’. Dhamma dalam kepercayaan buddhisme Thailand berarti ‘Kebenaran’. Sementara Palakka berarti ‘Pengawal’. Jadi artinya, ‘Pengawal Kebenaran’.”
“Kalau Song-nya, apa dong?”
“Oh, itu hanya angka. Song artinya dua. Berarti barkas ini ada beberapa unit. Barkas yang kita tumpangi ini adalah unit kedua. Jadi, ada Dhamma Palakka Satu serta ada Dhamma Palakka Dua, dan seterusnya.”
“Oh, begitu, ya?”
“Eh, tapi dalam bahasa Inggris nama barkas ini boleh juga diartikan sebagai ‘Nyanyian Pengawal Kebenaran’. Karena song dalam bahasa Inggris kan berarti lagu atau nyanyian.”
“Unik juga ya, namanya?”
“Ya. ‘Dhamma Palakka Song’ sebetulnya merupakan barkas yang biasa dipakai untuk mengangkut gula atau beras karung dari pedalaman Thailand ke pusat-pusat pemasaran di kota. Barkas-barkas gula atau beras karung semacam ini masih ada di sepanjang Chao Phraya, dan masih merupakan wahana transportasi tradisional di Thailand. ‘Dhamma Palakka Song’ ini sendiri sudah direnovasi dengan interior yang mewah. Kamu bisa lihat sendiri, kan?”
Erika memandang barkas yang mereka tumpangi dengan rasa kagum. Seperti layaknya kapal pesiar, dilihatnya interior barkas yang terbuat dari kayu jati dengan paduan lapisan enamel.  Semuanya berkesan mewah. Ruang-ruang tidurnya yang tidak seberapa besar, didesain sedemikian rupa hingga terasa lapang. Geladaknya yang luas menjadi ruang makan dan ruang duduk para penumpang. Sangat menyenangkan. Sebagian tertutup atap, sebagian lagi terbuka agar para penumpang dapat mandi sinar matahari menjemur diri.
Perlahan barkas memasuki kota lama Ayutthaya, tujuh puluh delapan kilometer di utara Bangkok tepat ketika sebuah jeritan keras terdengar dari geladak barkas disusul dengan suara deburan keras di air sungai.
“O-Odiiinaaa…!”
Odija terkulai lemas dengan wajah pucat pasi. Erika menggigit bibirnya nyaris berdarah. Entah mengapa Odina dapat tercebur ke dalam sungai. Juru kemudi kontan melompat ke dalam sungai untuk menolongnya. Namun Odina tidak berhasil diselamatkan. Kepalanya membentur keras lambung barkas sebelum jatuh ke air sungai.

***

Ritual pengkremasian jenasah diiringi dengan isak tangis Odija. Sudah berkali-kali gadis itu jatuh pingsan. Sementara itu Lung Khakaor hanya memendam kesedihannya itu dengan menundukkan kepalanya. Bibirnya yang keriput bergetar. Sepasang mata kelabunya seolah tak bercahaya.
Kematian Odina yang tiba-tiba itu menghadirkan beragam kisah irasional di lingkungan sekolah.
“Dia pasti menjadi korban dari Manohra!”
Seperti naga di Cina, Manohra merupakan makhluk aneh dalam mitologi masyarakat Siam. Tubuhnya merupakan perpaduan separuh burung dan separuh perempuan. Manohra dipercayai pula sebagai ‘penunggu’ di kebanyakan tempat seperti sungai di Thailand.
Odina menjadi salah satu korbannya karena gadis itu berwajah dua, kembar. Artinya, salah satu dari mereka harus menjadi tumbal karena Manohra sendiri sebenarnya mempunyai dua jiwa dalam satu raga.
Namun Erika menggebah semuanya itu sebagai takdir, ajal yang mesti diterima sebagai bagian dari kehidupan manusia. Itu adalah insiden. Murni kecelakaan yang bisa menimpa siapa saja termasuk dirinya sendiri. Bukan karena legenda yang sudah merakyat itu!
Odija terobsesi dengan legenda itu. Dia sangat sedih sehingga obsesi itu menjelma menjadi mimpi-mimpi, yang sudah beberapa hari ini mengganggu tidur malamnya.
“Lagunya indah sekali.”
“Kamu perlu banyak istirahat, Odija.”
“Dia mengenakan gaun kerajaan. Di sekelilingya tampak teratai-teratai….”
“Sudahlah….”
“Wajahnya berseri-seri, Erika. Dia terus tersenyum. Teduh sekali.”
“Odija!”
“Di istana Bang Pa In (7), setelah berdendang dan melantunkan syair seperti biasa, dia melambaikan tangan ke arahku. Dengan lembut dia mengatakan sesuatu padaku.”
“Odija, kamu jangan….”
“Wanita itu bilang, aku harus mencari setangkai mawar dari kebun sebuah keluarga yang tidak pernah mengalami kematian pada anggota keluarganya, Erika.”
“Tapi, mana ada….”
“Namanya, ‘mawar tanpa lara’!”
“Un-untuk apa?”
“Wanita itu bilang, kalau aku berhasil memperoleh bunga ‘mawar tanpa lara’ itu maka aku dapat menghidupkan….”
“Astaga, Odija! Istigfar kamu! Itu cuma mimpi!”
“Ta-tapi….”
Erika menggeleng. Odija menceritakan semua mimpi-mimpinya tersebut kepadanya. Namun dia menganggap bahwa hal itu merupakan halusinasi akibat kesedihan yang tak terhankan. Gadis itu depresi sehingga mengkhayalkan hal yang bukan-bukan. Maka terciptalah tokoh wanita sang biduan dari masa lalu di sebuah istana raja. Yang mengusulkan padanya untuk mencari ‘mawar tanpa lara’ sebagai penawar kematian Odina.
“Wanita itu nyata, Erika!”
“Kamu stres, Odija. Itu gejala paranoid. Kamu jangan pikir macam-macam lagi, please!”
“Ta-tapi, Odina mesti….”
“Dia sudah beristirahat dengan tenang!”
“Ak-aku benar-benar sesebatang kara sekarang!”
“Tidak. Kamu masih memiliki banyak sahabat. Semua itu juga merupakan saudara kamu.”
“Tapi….”
“Aku akan selalu menemani kamu, Odija.”
“Dulu, ayah dan ibuku! Se-sekarang… Odina!”
“Lupakan masa lalu. Jangan….”
“Manohra….”
“Itu cuma legenda!”
“Ta-tapi, mawar-mawar itu….”
“Sudahlah, Odija.”
“Tolong aku, Erika. Aku capek. Aku tidak pernah dapat menemukan ‘mawar tanpa lara’ itu!”
“Kamu….”
“Semua keluarga yang aku kunjungi dalam mimpi-mimpiku itu, tidak ada satu pun yang tidak pernah kehilangan keluarga maupun kerabat mereka. Semuanya tidak luput dari rangkaian kematian. Semuanya….”
Odija kembali sesenggukan. Erika memeluknya. Membelai rambutnya yang mayang seperti biasa.

***

Epilog
     
Sore hari mereka tiba di Ayutthaya dan diantar turun dari perahu untuk menghanyutkan lampion-lampion mini bersumbu api ke tengah sungai malam nanti. Hal itu merupakan tradisi kebanyakan masyarakat indo-China memperingati beberapa hari kematian seseorang yang dikasihi. Lung Khakaor dan beberapa teman sekolah mereka menemani perjalanan ke Ayutthaya sejak siang tadi.
“Tidak ada ‘mawar tanpa lara’ itu, Erika.”
“Karena tidak ada seorang pun di dunia ini yang luput dari kematian.”
“Tapi….”
“Mimpi kamu itu adalah isyarat, Odija. Bahwa kematian merupakan hal yang pasti di dalam dunia ini. Tidak ada yang luput. Makanya, ‘mawar tanpa lara’ tidak pernah akan dapat kamu temui.”
“Ta-tapi….”
“Tawakallah. Biarlah Odina tenang di alam sana. Jangan mengganggunya lagi dengan kesedihanmu itu.”
“Ak-aku….”
“Odina pasti sudah bahagia di sana. Kalau dia tahu kamu kusut masai begini, dia bakal lebih sedih ketimbang kamu. Sudahlah. Kamu jangan sedih begitu, dong!”
Odija menggeleng pelan.
“Kamu tidak kehilangan apa-apa, kok. Aku ini juga saudara kamu, Odija. Meskipun aku nantinya kembali ke Jakarta, tapi bukan berarti kita bakal berpisah selama-lamanya, kan? Setiap hari kita bisa chatting dan berkirim surat via email. Eh, kalau ada jodoh kembali ke Bangkok, aku pasti bawa oleh-oleh cowok Indonesia untuk kamu. Oke?”
Odija tersenyum. Hatinya terasa lapang. Dirangkulnya Erika dengan airmata berlinang. Dan dia sadar, kehidupan tidak terlepas dari kematian. Itu merupakan ajal semua manusia. 

Keterangan

(1) Anjali = Sikap hormat dengan kedua belah telapak tangan bersidekap ke dada, salam khas Thailand.
(2) Bikkhu = Biksu, pendeta Buddha
(3) Sangha  = Kumpulan biksu yang terdiri dari lima orang atau lebih, ulama Buddha.
(4) Pali = Huruf India kuno pada kitab suci Tripitaka (Sanskerta), cikal-bakal bahasa Thai.
(5) Lung = Kakek.
(6) Wat = Vihara atau Kuil, tempat ibadah umat Buddha di Thailand.
(7) Bang Pa In = Istana musim panas milik raja di Ayutthaya, Bangkok.