26 October 2013

DUNIA KECIL DI BELAKANG RUMAH

Oleh Effendy Wongso

Foto: Effendy Wongso
Bukan pemberian apa-apa sebenarnya. Sepasang baju dari bahan katun bercorak norak tabrak-warna tentu bukan hal yang patut dibanggakan. Apalagi sebagai special gift. Tapi anak ceking itu melonjak kegirangan bukan kepalang tanggung seperti menang undian. Dipeluknya sertamerta tubuh lampai Helen dengan sekali rengkuh. Menggelayut di lehernya yang jenjang. Menciumi pipinya berkali-kali.
Sebulan sudah diakrabinya bocah perempuan jalan sepuluh itu. Ini pengalaman baru persahabatannya dengan gadis cilik pemulung kardus di perkampungan kumuh belakang rumah istananya.
Tentu saja tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya. Juga sebasung karyawan rumah yang setiap hari berlagak seperti prajurit istana. Yang mendapat amanat menjagainya siang-malam agar tidak keluyuran di luar rumah. Bukan untuk apa-apa. Terlalu riskan membiarkan Helen Cherry Hidayat tanpa pengawalan. Sejumlah media elektronik gencar menayangkan berita kriminal bikin hati bergidik. Salah satunya adalah maraknya penculikan anak. Hal itu menggamangkan sepasang pengusaha garmen kaya, Tuan Hidayat Razak dan Nyonya Tinneke Warouw, sehingga mengambil keputusan yang agak berlebihan. Memasung putrinya dalam tirani pranata.
Menginjak enam belas usianya, dia memang masih dianggap kanak-kanak. Banyak hal yang belum boleh dilakukannya sebagai eksistensi kemandirian. Berangkat dan pulang sekolah saja mesti dijemput supir khusus. Jadi kebebasan ala reformasi memang belum pantas untuknya.
Maka ketika dia mulai menyadari kekangan yang tidak sehat itu, dia pun mengajukan banding dalam bentuk protes. Sayang kasasinya ditolak. Amar keputusan tetap menegaskan bahwa dia harus anteng di rumah. Menjalani rutinitas sebagai putri tunggal yang manis. Toh tidak ada sesuatu yang kurang dalam setiap daftar permintaannya. Apa-apa juga ada, kok!
“Baju ini….”
“Baju itu untukmu, Zul!”
“Tapi….”
“Titik!”
Helen meletakkan telunjuknya persis di tengah pelepah bibir gadis cilik dekil itu. Gadis cilik itu melepaskan pelukannya. Sepasang matanya masih membola.
“Tapi, Kak….”
“Hop dengan tapi-tapianmu itu, Zul! Pokoknya, baju itu harus kamu terima. Jangan pikir Kak Helen mau memulangkan kembali baju-baju itu ke mal karena kamu tolak.”
“Terima kasih, Kak Helen!”
Helen mengangguk.
“Tapi, apakah Papa-Mama Kak Helen tidak marah?”
“Baju itu tidak berarti buat mereka. Jadi untuk apa marah?”
“Tapi, Pak Nurdin….”
Helen menghela napas. Nama yang dimaksud oleh gadis cilik itu pasti kepala satpam depan gerbang. Selama ini lelaki berkumis tebal itulah yang selalu menggebah keinginan kabur sesaatnya dari rumah. Hei, lelaki itu seperti punya bakat menjadi sekuriti profesional. Padahal, bukan sekali-dua dia mengatur siasat rapi untuk melarikan diri. Pakai segala cara yang dilatahnya dari Charlie Angels-nya Cameron Diaz-Drew Barrymore-Lucy Liu!
“Nurdin sok galak. Tapi, jangan kuatir. Dia sudah Kak Helen jinakkan!”
“Hihihi. Memangnya herder ya, Kak?”
“Iya. Dia lebih galak dari herder.”
 Gadis cilik itu kembali terkikik. Gigi susunya yang ompong sebiji tampak lucu di mata Helen. Heran. Ada keceriaan yang menyertai kesehariannya kini. Tidak seperti kalau di rumah. Bete. Meski dibanjiri fasilitas permainan, tapi rasanya selalu saja ada yang kurang. Sejak kehadiran Siti Zulaikhah dalam hari-harinya yang panjang dan melelahkan, dia seperti kembali menemukan dunianya yang hilang.
Sejak kematian Oma Selena, orangtua perempuan dari pihak Mamanya itu, keceriaan masa kanak-kanaknya seperti tersaput kabut. Dia tidak punya teman bermain lagi. Kedua orangtuanya terlalu sibuk dengan urusan bisnis. Nyaris tidak ada waktu untuk putri tunggalnya tersebut. Kasih sayang yang sebenar-benarnya tidak pernah dirasakannya meski sederet fasilitas mewah mewakili kealpaan mereka.
Pertemuannya dengan Siti Zulaikhah memang seperti obat penawar renjana. Pertemanan itu memupus kegersangan kasih sayang yang tidak didapatinya secara sempurna dari Papa dan Mamanya. Siti Zulaikhah hadir dalam hidupnya bukan sekadar teman. Namun lebih dari itu, dia merupakan sebuah anugerah dari langit!
Mengajarinya banyak hal tentang kehidupan lain di luar dari dunianya yang hangat dan nyaman. Sisi suram pergulatan hidup sebagian manusia memang telah terpapar dari sosok gadis kecil sahabatnya itu.
Dan dia memafhumi dunia lain itu.

***

Helen masih ingat ikhwal perkenalannya dengan Siti Zulaikha. Kurang lebih sebulan lalu saat dia hendak berangkat ke sekolah, dia bertemu dengan gadis itu di muka gerbang rumah. Ketika itu dia tengah memulai rutinitas hariannya memulung pada pagi hari.
“Untuk apa kardus-kardus bekas itu?”
“Fungsinya banyak, Kak. Sebagian dijual, lalu sebagian lagi untuk bikin rumah.”
“Rumah-rumahan? Wah, asyik ya? Seperti jigzaw begitu….”
“Bukan rumah-rumahan. Tapi, rumah. Rumah untuk tempat kami tinggal dan berteduh. Atapnya bisa dari seng tua atau plastik terpal bekas, dan dinding-dindingnya ya dari kardus-kardus ini.”
“Hah?!”
“Kenapa Kakak heran?”
“Jadi, kalian tinggal di rumah-rumahan….”
“Rumah. Seperti di seberang kanal itu!”
“Ja-jadi….”
“Jadi kami sekeluarga tinggal berteduh di dalamnya. Tapi, rumah kardus tidak tahan lama. Tiap sebentar harus diganti kardus bekas yang baru. Kalau musim penghujan kardus-kardus akan benyek. Itu tidak seberapa dibandingkan kalau air kanal meluap banjir. Rumah kami bisa terseret. Untung kalau tidak menyeret kami sekalian.”
Keheranannya itu menerbitkan rasa ingin tahu. Tentang rumah-rumah kardus di seberang kanal, belakang perumahan megah rumahnya. Hari demi hari dia menyimak dengan takzim dunia yang tidak lazim baginya. Sama sekali tidak pernah membayangkan ada dunia kecil dengan ratusan bahkan ribuan penghuninya yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Tepat di belakang rumah istananya!
Lalu diakrabinya gadis kecil itu sebagai bagian dari keingintahuannya. Ternyata banyak hal yang tidak diketahuinya sama sekali. Dia telah dibutakan oleh kungkungan tembok tinggi. Yang disibak dengan tirai baku sehingga mempolakan keseragaman yang indah semata di benaknya. Padahal, pada kenyataannya dunia ini tidak seindah apa yang dibayangkannya selama ini.
“Kami tidak pernah tinggal menetap lama. Selalu berpindah-pindah tempat. Kena gusur di sana-sini. Zul capek, Kak!”
Dari persahabatannya dengan gadis cilik itu pula dia dapat merasakan getirnya hidup kaum marjinal. Diam-diam dia bersyukur dengan kondisi keluarganya yang mapan sekarang.

***

“Kak Helen kok mau berteman dengan Zul?”
“Memangnya kenapa?”
“Apa tidak risih jalan dengan Zul yang dekil begini?”
“Kenapa harus risih? Memangnya orang dekil tidak boleh punya teman?”
“Tapi, Zul sama sekali tidak punya apa-apa. Justru Zul yang jadi risih kalau begitu.”
“Persahabatan itu tidak ditakar dengan materi. Kamu jangan minderan begitu dong, Zul!”
“Iya, sih. Tapi, Zul kan harus tahu diri.”
“Tahu diri untuk selalu mawas terhadap harga diri memang mesti. Kita kan sama-sama manusia. Jadi masing-masing punya nilai yang sama di mata Tuhan. Kalau orang lain mencibir persahabatan kita, ya biarkan saja. Memangnya Kak Helen pikirin?”
“Tapi, Zul takut Papa dan Mama Kak Helen marah!”
“Kalau tidak berbuat salah, kenapa harus takut?!”
“Tapi….”
“Zulaikha-Zulaikha! Kamu harus pede. Buat apa Kak Helen susah-susah mau mengajar Zul membaca kalau bukan untuk pintar? Kalau sudah pintar kan bisa jadi orang gedean. Seperti Papa dan Mama Kak Helen. Punya perusahaan sendiri.”
“Iya, sih. Tapi….”
“Sudahlah. Tidak ada tapi-tapian. Sekarang, kamu tuh adik Kak Helen.”
“Ap-apa kata Kak Helen?!”
“Kamu adik Kak Helen!”
“Siti Zulaikha adalah adik Kak Helen?!”
“He-eh.”
“Ja-jadi….”
“Jadi kamu tuh tidak usah malu lagi jalan sama Kak Helen. Karena kamu adalah adik Kak Helen.”
Gadis cilik itu sertamerta memeluk tubuh jenjang Helen. Lalu menciumi pipinya berkali-kali seperti biasa. Tak terasa airmatanya menitik. Indah persahabatan dua anak manusia dari dua dunia yang berbeda memang adalah anugerah. (blogkatahatiku.blogspot.com)