26 October 2013

Dimensi Lain Sang Waktu

BLOGKATHATIKU/IST
Dimensi Lain Sang Waktu
Oleh Effendy Wongso

Tidak ada mesin waktu yang dapat membawanya ke alam lain, ke suatu tempat asing yang sangat jauh sehingga ia dapat terbebas dari neraka ini. Tidak ada lorong waktu yang dapat mengirim tubuhnya ke dimensi lain, menyeretnya ke serangkaian kisah dari masa lampau maupun mutakhir sehingga ia dapat terbebas dari rutinitas kemoterapi yang menyakitkan ini.
“Nadya Hans Sasongko!”
Lamunannya tergebah ke langit-langit rumah sakit. Mesin waktu fiktif bentukan imajinasi dalam benaknya melebur oleh satu panggilan nama. Ia menggigit bibir.
Tidak ada hamparan padang rumput yang menghijau indah. Tidak ada kembang beraneka warna dengan semerbaknya yang wangi. Tidak ada pelangi yang dititi oleh tujuh bidadari yang hendak mandi di bumi. Tidak ada hujan meteor yang indah bak kembang api. Dan tidak ada seribu kisah indah penawar lara!
Ia masih duduk tepekur di salah satu bangku panjang ruangan dengan bau formalin yang menyengat. Lalu-lalang para perawat berseragam putih-putih bagaikan birama yang mengalun dalam hidupnya. Dua tahun diakrabinya semua itu dalam gundah batin yang menyiksa. Sangat menyiksa!
Belum gilirannya. Dan ia mengembuskan napas resah setiap kali mendengar nama lain dipanggil masuk ke dalam ruangan sempit yang di benaknya seperti krematorium, dimana kepalanya akan dibakar dengan sinar-sinar laser panas sampai menjadi debu. Ditunggunya perawat jaga memanggil namanya. Tatiana Primeswara!
Saat ini ia hanya dapat terpaku. Detak-detak detik yang mengirama di sepasang gendang telinganya bagaikan litani yang akan mengantarnya sampai ke sebuah gerbang. Dimensi lain dari Sang Waktu.
Ia menghela napas panjang.
Ketidakrelaan tercetus di dalam tangisnya yang sudah tak berairmata. Setiap hari. Setiap waktu. Sampai datang seorang bocah perempuan, menyadarkannya bahwa dimensi lain Sang Waktu bukan hal yang perlu ia takuti lagi. Dunia itu penuh warna. Dunia lain dari dimensi lain Sang Waktu yang selayaknya disambut senyum bak semerbak wangi bunga. Bukannya tangis dan airmata yang senantiasa mengundang bau kematian!
Waktu itu, ada rengekan manja di sampingnya. Dilihatnya seorang ibu tengah bermain dengan putrinya yang baru jalan enam.
“Ma, Om Dokternya nyuntik lagi, ya?”
“Iya, Sayang.”
“Nggak mau, Ma!”
“Harus mau. Biar Hani cepat sembuh.”
“Tapi….”
“Kalau sembuh, Hani bisa main di Dufan lagi.”
“Betul ya, Ma?”
“Betul, Sayang. Sejak kapan sih Mama pernah bo’ongin Hani?”
“Trus kalau habis disuntik, apa rambut Hani bisa tumbuh lagi?”
“Tentu, Sayang. Rambut Hani bisa tumbuh panjang seperti punya Barbie.”
“Hooree… berarti Hani nggak usah makai topi ini lagi! Berarti Hani bisa sisiran seperti Barbie!”
Bocah perempuan itu membuka topi kupluk bergambar Miki Tikus dari kepalanya yang plontos. Dipeluknya wanita muda itu, menggelayut manja di kakinya yang lampai.
Ia menggigit bibir. Setiap Senin adalah neraka baginya. Papa tengah anginkan diri di luar ruangan rumah sakit. Seperti kebiasaannya dari waktu ke waktu. Sudah dua tahun ia menjalani proses yang seperti ritual mingguan ini. Sudah dua tahun lelaki itu menyertai dan mengawalnya ke tempat serba putih ini. Sudah dua tahun ia menjalani terapi kemoterapi atas repertum kanker otak dari dokter yang kala itu dianggapnya kiamat. Sampai pada suatu ketika ia merasa tidak kuat lagi menanggung derita yang menderanya seperti tanpa henti.
Bocah itu tersenyum kepadanya. Naturalisasi yang entah datangnya dari mana. Ia muncul tiba-tiba dalam kepolosan setiap anak. Dibalasnya senyum anak itu dengan tingkah bocah. Mimik senyum yang sebenarnya dipaksakan sebagai balasan. Ia merasa berdosa. Ketulusan dari bocah perempuan itu telah ditunaikannya dengan sandiwara!
Ini ruang tunggu kamar 5B. Di mana semua pasien tampak lunglai seperti bunga yang layu. Embusan napas yang terdengar konstan dan satu-satu, seolah berlomba dengan detak detik dari arah atas tengah bingkai pintu. Jam dinding menggentarkan hati pasien. Mendegupkan jantung mereka. Sampai kapan buliran-buliran waktu itu akan berhenti?!
Tidak ada yang tahu!
Tatiana menghela napas panjang. Alam seperti telah menghukum mereka, generasi dari para pendosa yang terbuang dari Taman Eden setelah memakan Buah Terlarang atas hasutan seekor ular batil!
“Kakak….”
Ia menoleh ke arah asal suara itu. Bocah yang menyemuminya tadi kini melangkah setindak ke sampingnya. Sebuah bangku satu setengah meter tidak terlalu jauh untuk mengajak sepasang kaki kecil itu melangkah.
“Halo,” sambutnya, mendelik-delikkan matanya seperti boneka mainan.
“Kakak, siapa ya nama tokoh kartun di dalam gambar baju Kakak ini?”
Ibu dari bocah perempuan itu tersenyum, mengangguk padanya. Mengawasi anaknya dengan mawas. Tatiana membalasnya juga dengan satu anggukan pada kepala.
“Oh. Namanya, Winnie The Pooh.”
“Winnie The Pooh?”
“He-eh. Tokoh beruang yang lucu. Eh, nama kamu siapa?”
“Hani.”
“Udah sekolah Hani?”
“Udah. Nol Besar.”
“Wah, pinter.”
“Iya. Tapi, Hani nggak suka sama temen-temen cowok!”
“Kenapa?”
“Nakal-nakal. Usil. Suka gangguin Hani.”
“Nakal bagaimana?”
“Masa mereka suka ledekin Hani Botak, Kak! Hani kan malu! Hani sedih! Padahal, Hani kepingin banget punya rambut panjang seperti Barbie!”
Tatiana terkesiap. Apakah semua ini, nasibnya dan nasib yang dialami oleh bocah perempuan bernama Hani itu merupakan predestinasi dari langit untuk mereka?!
Ia menggeleng. Ia sendiri tidak tahu!

***

“Kakak kok diam, sih?”
“Ah, nggak kok!”
“Kakak juga pakai topi?”
Tatiana mengangguk. “Iya, tapi bukan topi seperti punya Hani. Topi Kak Tatiana ini lain. Seperti rambut. Namanya wig.”
“Wig?”
“He-eh,” angguk Tatiana, lalu menggeraikan sebagian rambutnya ke depan. “Ini. Jadi wig ini adalah rambut palsu.”
“Hah?” Bocah perempuan itu ternganga. “Kalau begitu, Kakak nggak pernah diledekin botak, dong?”
“Nggak pernah. Karena wig ini menutupi kepala Kakak yang gundul.”
“Kalau begitu, Hani boleh juga dong pakai wig!”
“Boleh. Tapi, nanti ya kalau Hani sudah besar dan dewasa.”
“Ta-tapi….” Bocah perempuan itu memberengut. “Hani mau pakai sekarang! Hani nggak mau tunggu sampai dewasa. Kalau dewasa, kepala Hani yang botak sudah ditumbuhi rambut. Jadinya percuma!”
Tatiana mengusap wajah. Ia tercenung mendengar kalimat lugu bocah perempuan itu. Ada pengharapan dan semangat hidup yang terpancar dari sana, meski sebenarnya Sang Waktu hanya menyisakan hembusan-hembusan napas yang kian hari memendek bagi mereka.
Dibukanya lembaran silam masa lalu dalam ingatannya. Ia seperti tidak pernah lepas dari prahara. Setelah Mama meninggal dalam sebuah insiden tabrak lari tiga tahun lalu, satu tahun kemudian setelah kejadian tragis itu, ia kembali dihadapkan pada kenyataan getir. Kanker in situ pada otaknya yang divonis dokter setelah beberapa kali terkulai pingsan di kelas, baginya tidak lebih dari kiamat. Dunianya sudah hancur!
Dari hari ke hari kankernya menjalar dan mengganas. Lalu serangkaian kemoterapi pun dijalaninya. Mengorbankan mahkota di kepalanya. Dari menipis, rontok, hingga plontos sama sekali. Ia pasrah. Tidak ada gairah untuk melanjutkan hidupnya lagi. Kadang-kadang setelah menguras seluruh airmatanya, ia berpikir untuk bertindak irasional. Menghabisi nyawanya sendiri!
Namun, ajal yang diinginkan rupanya belum menjemput. Takdir belum menghendaki ia berbuat begitu. Berkali-kali ia gagal melakukan niatnya yang babur jika mengingat betapa hancurnya hati Papa bila putri tunggalnya pun pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya!
Karenanya, diurungkannya niatnya itu. Dan lebih memilih menjalani sisa hari-harinya dengan lelaki baik hati yang telah diakrabinya bahkan sejak bayi. Tumbuh bersamanya, menjalani rangkaian hidup yang terasa sangat menyiksa dan melelahkan.
Ia berusaha bersikap tabah. Namun tak urung rasa gentar menggerogoti hatinya. Dimensi lain dari Sang Waktu demikian menakutkannya. Dinantinya ajal menjemput dengan sejumput ragu. Ia ingin memberontak. Ia ingin terbebas dari kekangan derita yang sudah hadir dalam kehidupannya sejak kehilangan Mama tiga tahun yang lalu.
Ia ingin menghentikan semua itu. Karena ia gamang. Takut terhadap dimensi lain dari Sang Waktu yang sudah mendekat. Yang akan memendekkan perjalanan usianya.
Entah kapan.

***

Bocah perempuan itu terus merengek. Dan ia menangis meraung-raung sampai menyita perhatian beberapa pasien kanker yang sedang menunggu giliran untuk menjalani kemoterapi. Serangkaian pengobatan yang kadang-kadang lebih mengerikan dan menyakitkan ketimbang penyakit kanker itu sendiri.
“Hani, nggak boleh rewel! Nanti Om Dokternya marah!”
“Tapi, Hani mau wig seperti punya Kakak, Ma!”
“Iya, iya. Nanti Mama belikan di mal. Sekarang, Hani diam. Jangan menangis lagi.”
Bocah perempuan itu terdiam. Ia kembali mendekati gadis ringkih di sampingnya. Naik ke atas bangku kayu rumah sakit, lalu membelai rambut palsu Tatiana.
“Hani!” Ibu gadis cilik itu menyergah, berusaha menggebah kelakuan putrinya yang sporadis. “Jangan ganggu Kakak!”
“Nggak kok, Ma!” teriaknya, tidak merasa bersalah. “Hani cuma ingin tahu bagusan mana, rambut palsu atau asli!”
Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya, tersenyum dengan rupa subtil, seolah hendak mengatakan maaf pada Tatiana. Ia tidak tega mencegah perbuatan riang Hani. Maka dibiarkannya anaknya itu mengucek-ucek rambut palsu Tatiana seperti sedang mencari kutu rambut.
Tatiana tersenyum geli.
“Rambut palsu nggak sebaik rambut asli ya, Kak?”
“Lho, kenapa?”
“Soalnya, rambut palsu nggak bisa ketombean. Kalau ketombean kan bisa dikeramas dan dishampo setiap hari.”
Tatiana terbahak. Wanita muda ibu dari anak itu juga tertawa. Beberapa pasien kemoterapi yang pas duduk di belakang mereka turut tertawa.
“Makanya, Hani nggak takut disuntik sama Om Dokter. Biar cepat sembuh. Kalau sembuh, rambut Hani kan bisa tumbuh dan panjang seperti punya Barbie!”
“Tapi, katanya tadi pingin pakai wig kayak Kakak?”
“Nggak jadi. Mendingan rambut asli aja. Kalau rambut asli, itu berarti Hani udah sehat. Pokoknya, Hani mau sehat!”
Tatiana menggigit bibirnya. Kerongkongannya memerih. Sama sekali tidak menyangka kalau bocah perempuan jalan enam itu dapat setegar itu menjalani hari-harinya yang tersisa. Ketika Sang Waktu sudah nyaris menghentikan detak-detaknya yang melambat.
Airmatanya menitik.
Dimensi lain Sang Waktu sudah di ambang pintu. Mungkin besok atau lusa, entah, ia sudah tidak berada di planet biru yang hangat ini lagi. Menjelang hari-hari baru dari dimensi lain Sang Waktu.
Sependek apa pun waktunya kini, mesti dijalaninya dengan sebaik-baiknya.