25 October 2013

Cinta bersemi di Brussels


Oleh Effendy Wongso


Grotte Markt di pusat kota tua Brussels tampak anggun disinari tema­ram cahaya rembulan dari langit barat. Jajaran bangunan klasik berasitektur Mediterania masih memamerkan keindahan khas Negeri Liliput, Belgia.britaloka.com/Ist
britaloka.com - Grotte Markt di pusat kota tua Brussels tampak ang­gun disinari te­ma­ram cahaya rembulan dari langit barat. Ja­ja­r­an bangunan klasik berasitektur Medi­­te­rania masih me­ma­merkan keindahan khas Negeri Liliput*, Belgia. Su­dah se­ming­gu saya di sini, segalanya masih tampak lawas. Meng­ha­dirkan se­rang­­kai­an kenangan dalam ingatan.
Ini oleh-oleh terbaik dari sana!

***

Jennifer van deer Meyde. Gadis berambut pirang de­ng­an sepasang ma­­ta kelerengnya yang biru. Dia adalah gotik yang sesungguhnya. Sebuah ke­in­dahan natural tak berban­ding.
“Hei, your hair like Tintin!”
Gadis itu mengacak rambut saya. Seminggu lalu, ga­dis bertubuh lam­pai itu mulai mencecar saya. Dia meru­pa­kan salah seorang panitia pelaksana Fes­tival Kesenian Re­ma­­ja Internasional di Brussels. Setelah press con­ference di In­door Stadium of Heysel , stadion sepakbola termegah ke­bang­­gaan kese­be­lasan nasional Belgia, sehari sebelum pen­tas festival, dia mulai me­ng­ekori saya. Sampai pentas berak­hir. Mengganggu sekali.
“You know that? A Hérge’s comical story.”
Tentu saja ulahnya itu bikin Erina kesal. Rekan saya, re­daktur budaya mading sekolah itu sampai memasang wa­jah kecut semasam mangga muda bila bertemu Jennifer. Se­dari dulu dia bilang kepada saya, kalau selama ini tidak suka de­ngan gadis-gadis Barat. Mereka ter­lalu bebas, free­dom sty­le. Gayanya suka-suka. Tidak se­per­ti orang Timur yang ma­sih kaleman.
Tentu saja tidak sepenuhnya benar. Saya bilang , un­tuk urusan hati, orang bule lebih fair ketimbang orang Asia. Mereka tidak pernah mau me­nutupi unek-unek yang men­jadi ganjalan dalam hati sehingga menjadi pe­nya­kit. Maka­nya orang Barat tampak awet muda karena tidak me­nyim­pan dendam.
Tapi gadis Batak itu tetap menolak. Memprotes saya de­ngan cara ber­ja­­lan langkah cepat seperti dikejar gende­ru­wo. Dia masuk ke salah satu toko su­ve­nir di rue du Heuvel Co­l­line, di salah satu ujung dari bangunan se­la­sar Grand Pla­ce Brussels, tanpa mempedulikan saya lagi.
“What the hell with her?” Jennifer tersinggung, dan dia mencibir se­telah punggung Erina menirus di rimba ma­nu­sia dalam toko yang senantiasa sarat pe­ngunjung itu.
“Mungkin lagi haid.” Saya jawab sekenanya , dalam ba­hasa Inggris tentu saja. “Biasa, penyakit perempuan.”
Jennifer mengangguk mafhum. “Oh, I see.”
“I hope you don’t be angry.”
“Of course not.”
Dan, astaga!
Gadis itu merangkul lengan saya di akhir kalimat­nya. Saya gelagapan. Ten­­tu bukan karena kebaikan hatinya yang mau berbesar hati memaafkan Eri­na. Tapi karena ke­pa­lanya yang sudah menyandar di bahu saya. Dia meng­ge­la­yut manja. Kibasan rambut pirangnya yang menyebarkan ha­rum itu me­nyapu wajah saya.
Ya, Tuhan, tolong saya!
Senja itu, tanpa Erina yang entah menghilang ke ma­na, tapi saya yakin dia sudah kembali ke Hotel Ibis Grand Place, berdua kami menyusuri jalan di Rue des Bou­chers, dimana jajaran restoran makanan laut di daerah Saint Hu­­­bert Royal Galleries itu menggugus menggiurkan. Mene­tes­kan liur kami.
“Kamu pernah cobain mosselen, Rio?”
“Apa itu?”
“Kerang khas Belgia.”
“Belum pernah.”
“Kita cobain, yuk. Don’t worry. Aku yang traktir. Kamu kan tamuku.”
Gadis itu menarik tangan saya setengah menyeret. Dia masuk ke salah sa­­tu restoran yang sudah mengaroma den­gan wangi makanan. Perut saya tiba-tiba keroncongan.
“She’s your girlfriend?”
“Just a friend.”
“Don’t be lie.”
Jennifer mendesak saya di meja makan. Dia ingin ta­hu soal hubungan sa­ya dengan Erina. Dia mengunyah ste­ak kerang dengan lahap.
“Aku dan dia satu sekolah. Kami redaktur mading dan majalah seko­lah di Jakarta.”
“Aku sudah tahu. Kamu kan sudah menceritakannya ke­marin.”
“So, what you mind?”
“She’s look very jealous. Pasti bukan teman biasa ka­lau dia bersikap anti­pa­ti begitu kepadaku.”
“Untuk apa aku bohong sih, Jenny?”
“Yeah, I know. Tapi, dia kelihatan….”
“Dia memang begitu, Jenny. Rada reseh. Jangan di­am­bil hati.”
“Tapi, aku tidak enak hati. Jangan-jangan aku nanti dianggap orang ke­­ti­ga perusak hubungan kalian.”
“Oh, my God. You must believe me, Jenny. How many times….”
“Okay. Don’t be angry, Rio. Aku kan cuma sekadar ber­tanya. Kalau me­mang tidak betul begitu, ya syukurlah. Ber­arti aku bisa tenang mengajak­mu ‘da­te’.”
Date?! Hah! Hal itu merupakan acara perkenalan un­tuk membina ke­ak­­­­rab­an pertemanan di lingkungan remaja Ba­­rat. Saya sedikit risih dengan ka­li­mat itu. Sebab, kalau di In­donesia itu merupakan ritual berpacaran, ken­­can. Tapi sa­ya akhirnya mengangguk menanggapi.
Nyaris sampai tengah malam kami menghabiskan wak­­tu di jalan-jalan ko­ta tua Brussels. Menyaksikan bangun­an gotik, gaya arsitektur seni pahat dan lukis pada abad XII sam­­pai dengan XVI di Eropa, yang menyebar di se­pan­­­­­jang su­dut-sudut kota tua ini. Beberapa saat berhenti di Monu­men Man­nequin-pis, sebuah patung tembaga berbentuk bo­cah lelaki yang sedang ‘pi­pis’.
“Sejarah patung bocah ini unik sekali lho, Rio.”
“Oya?”
“Pokoknya unik, deh.”
“Uniknya karena apa?”
Saya memandang patung bocah lelaki setinggi ku­rang lebih tiga puluh sentimeter itu, yang sepanjang hari me­ng­u­curkan air mancur dari kemaluan­nya persis seperti se­dang ‘pipis’.
“Begini. Konon, pada waktu Perang Dunia Pertama, per­sis di Monu­men Mannequin-pis ini pernah dipasangi bom ber­kekuatan ledak besar oleh pasukan musuh untuk meng­han­curkan pusat Kota Brussels. Saat sumbu bom itu sudah di­sulut, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang mengencingi sum­bu bom ter­sebut. Akhirnya bom itu tidak jadi meledak, dan Brussels selamat da­ri kehan­curan. Nah, untuk menge­nang jasa bocah lelaki tidak dikenal itu, penduduk Kota Brus­sels mendirikan monumen ini. Namanya, Mannequin-pis atau ‘Bocah yang Sedang Kencing’. Tapi, itu legenda. Entah be­nar atau ti­dak­nya, aku tidak mengerti.”
Kami berputar-putar sampai lelah. Saya pamit se­te­lah jam di perge­lang­an saya sudah menunjuk angka sebelas. Dia menolak untuk saya antar ke kedia­man­nya di jantung ko­ta, Avenue Louise. Saya cegat taksi menuju Hotel Ibis Grand Place setelah melambai pada gadis berambut pirang itu.    

***

Denyut kehidupan di Kota Brussels masih berdetak. Di balik kaca jen­dela kamar hotel, dari kejauhan saya me­li­hat La Boutique Café masih ber­si­nar de­ngan cahaya pene­rang­annya yang temaram. Beberapa pasang remaja asyik ber­cengkerama di mejanya masing-masing, dengan dite­ma­ni lilin-lilin tirus yang menyala seperti kunang-kunang.
“Candle light dinner!”
Saya menoleh kaget. Erina sudah berdiri di belakang sa­ya. Dia duduk de­ngan gerak gegas di gigir ranjang. Saya sen­tuh saklar lampu di sisi kiri bu­fet setelah menyeret lang­kah dari ambang jendela. Lampu dinding me­nyala. Wajah Eri­­na masih semuram siang tadi!
“Sori, saya masuk tanpa permisi.”
“Ti-tidak apa-apa.”
“Kamu belum tidur? Masih mikirin….”
Saya duduk di samping gadis berwajah oval itu. “Si­apa?”
Dia menundukkan kepala, memilin-milin bilah anak rambutnya yang men­­­­­­­jun­tai di bahu. Belum menjawabi per­ta­nya­an saya.
“Jenny….”
“Asyik ya punya pacar bule?”
“Maksudmu….”
“Bisa ber-‘candle light dinner’ setiap malam. Lalu, de­­ngerin ‘Unchai­ned Melody’ dari piano sang pianis sambil nge­tos sampanye di café. Uh, ro­mantis sekali!”
“Hei, tapi kami hanya….”
“Eit, jangan bilang gadis berambut emas itu hanya teman.”
“Ta-tapi….”
“Anak-anak juga tahu, kok!”
Astaga! Ini prasangka yang belum berdasar sama se­kali meski pun ka­sus­nya beralibi. Tentu saja. Anak-anak ce­wek adik kelas kami di SMA Regi­na Pacis yang sepu­luh ekor itu asal ngomong menebar jala gosip.
“Gandengan tangan. Apalagi?”
“Ka­mu salah paham….”
“Sepanjang jalan kenangan. Mengitari Bruparc , Brus­­sels Parc, sing­gah di Kinepolis nonton film Hollywood, ma­kan hambur­ger dan mi­num es krim di Quick, la­lu….”
Saya menyentuh bahu Erina yang masih mengge­ri­mis­kan kalimat dari bi­bir­nya.
“Hei, hei. Kami tadi tidak pernah ke sana. Apalagi non­­ton!”
“Ke mana juga tidak ada yang melarang, kok!”
“Tapi, suer! Jenny anaknya memang gaul….”
“Hanya orang gila saja yang tidak tahu kalau gadis agresif itu tergila-gila karena kasmaran sama kamu!”
“Erina Karla Tambunan. Kamu kenapa, sih?!”
“Salah minum obat!”
Gadis prenjak itu beranjak. Meninggalkan kamar sa­ya dengan disertai satu debuman keras pada daun pintu. Sa­ya terlongong tidak mengerti. Gadis itu memang seperti sa­lah minum obat!

***

Saya sama sekali tidak pernah menyangka kalau ga­dis Belgia itu dapat mengutarakan isi hatinya selancar se­lun­curan es di Zurich. Ternyata dugaan Eri­­na tepat mengena ke sasaran.
Mendadak saya teringat kalimat yang disampaikan Eri­na malam ke­ma­rin.
“Hanya orang gila saja yang tidak tahu kalau gadis agresif itu tergila-gila karena kasmaran sama kamu!”
Tapi, tentu saja bukan perkara gampang kalau saya menanggapi pera­sa­an hatinya yang secepat lesatan anak pa­nah dari tembakan busur itu. Ini masa­lah dua kultur yang ber­­beda! Juga karena dalam hati dan benak saya su­­dah ada na­ma lain.
Seseorang yang selama ini selalu saya mimpikan!
Tadi pagi gadis bermata biru itu kembali mengusiki saya. Dia memba­wa burger dan kentang goreng serta soda susu dari Quick, kedai hamburger lokal khas Belgia, mirip McDonald’s. Setelah sarapan pagi hasil bawaannya yang ti­dak habis kemakan, dia ingin ngajak jalan ke Basilique Koekel­berg, gereja terma­shyur di Belgia. Mengabadikan gam­bar berdua dengan berlatar lanskap agung itu sebagai ke­nang­an sepanjang masa!
Dan, lagi-lagi saya tidak kuasa menolaknya. Dia me­narik tangan saya se­­perti kebiasaannya. Setengah menyeret, me­maksa saya masuk ke Golf GTI-nya. Melajukan mobil de­ng­an santai sampai ke pelataran besar yang di­je­­jali turis dan pe­dagang suvenir. Masuk ke dalam gereja yang bernuansa kla­­sik. Setelah pu­as melihat-lihat, di pekarangan gereja me­gah itu, dia ber­te­rus terang bilang suka sama saya. Sama se­ka­li tidak canggung. Justru, saya yang rikuh. Kemek­mek se­perti orang yang salah minum obat!
Malam ini, saya menceritakan semua kejadian tak ter­duga itu kepada Eri­­na, setelah dua guru pembimbing dan anak-anak SMA Regina Pacis yang mewa­kili Indo­ne­sia ke event tahunan itu, mereka membawakan tarian Le­nong Be­ta­­wi, su­dah pada tidur karena kecapekan.
“Nah, apa lagi?” Erina setengah mencibir. “Dia can­tik. Mirip Lindsay Lohan. Tembak saja!”
Tawa saya hendak menyeruak. Bukan karena kali­mat yang dia ucap­kan. Tapi karena mimik parasnya yang me­nyeringai lucu. Apalagi dia berli­pat tangan dengan wajah yang dibuang berpaling.
“Terima saja. Hitung-hitung, memperbaiki ‘keturun­an’!”
“Astaga, Rin. Siapa juga yang mau ‘menikah’?”
“Ras unggul. Jenis blaster biasanya….”
“Hei, memangnya herder apa?”
“Oh, come on. Jangan bertingkah pura-pura lagi….”
“Pacar bule, ih tidak kebayang deh….”
“Apa salahnya?”
“Tidak salah, sih. Tapi, ini bukan ‘ide’ yang baik….”
“Siapa bilang? Jennifer van deer Meyde tidak malu-ma­luin untuk dija­di­­kan oleh-oleh ‘calon menantu’ buat orangtua kamu.”
“Hei, memangnya dia suvenir khas Brussels yang bi­sa diboyong seenak hati ke Indonesia?”
Saya terbahak. Gadis itu manyun. Wajahnya muram se­perti biasa. Ta­pi dia jadi kelihatan manis dengan mimik mu­ka oval begitu. Unik. Sepasang pipi­nya yang memerah itu ja­di seperti buah tomat.
“Lagian, dunia entertainment di negeri kita kan lagi ngetrend wajah-wa­jah indo-blaster…..”
“Sekarang oriental Korea!”
“Tapi….”
“Aduh, Erina. Kenapa kamu suka bikin skenario sen­di­ri tentang hu­bungan asmara fiktif antara Mario Hertasning dengan Jennifer van deer Meyde itu, sih?”
“Tapi, Jenny suka sama kamu!”
“Suka bukan berarti cinta. Tahu tidak, bule memang be­gitu. Tidak per­­­nah mau menutup-nutupi dan memendam pe­rasaan. Kalau ada apa-apa, lang­sung bilang. Langsung nem­bak. Sedari kecil mereka memang sudah ter­bi­asa de­ng­an iklim fair begitu.”
“Seperti cacing kepanasan begitu kamu bilang Jen­ny tidak cinta ka­mu?”
“Mau ular kepanasan juga kek, gadis bule itu pem­ba­waannya memang be­­­gi­­tu. Mau apa lagi? Memangya harus di­tanggapi semua? Hei, aku tidak mau ber-‘po­ligami’ seratus pa­car bule.”
Saya lihat Erina berusaha menahan tawanya. Mung­kin dia malu kare­na sejak kehadiran gadis berambut pirang de­ngan nama panggilan ‘Jenny’ itu, dia misuh-misuh tiga kali sa­tu hari, persis seperti anjuran minum obat da­ri apotik.
“Tapi selama ini….”
“Selama ini saya hanya menganggap dia teman. Te­man baik.”
“Ta-tapi, gandengan tangan….”
“Bagi bule, jangankan gandengan tangan, ciuman pun dianggap bi­a­sa.”
“Ja-jadi, ka-kalian sudah saling nge-kiss?!”
“Tentu saja belum. Kamu pikir bibir saya ini karet peng­­ha­pus apa, bisa dengan sem­­barangan menghapus lips­tik orang?”
Gadis dengan sepasang lentik bagus pada pelupuk matanya itu sudah ti­­dak dapat menahan tawa. Saya lihat dia sudah terpingkal. Untung malam ini anak-anak ganjen yang berjumlah sepuluh ekor itu sudah dibuai mimpi. Ka­lau tidak, pasti mereka akan berulah lagi dengan sifat latennya. Meng­u­sili hidup orang lain!
“Eh, Rio. Kenapa sih kamu tidak kepingin punya pa­car bule?”
“Tidak mau ya, tidak mau!”
“Memangnya kenapa?”
Saya tidak tahu harus menjawab apa. Lima detik sa­ya membisu sebe­lum akhirnya menjawab juga dengan ka­li­mat sekenanya.
“Karena aku cinta produk negeri sendiri.”
“Hah, kamu nasionalis sekali!”
“Iya, dong.”
“Kalau begitu, siapa dong produk dalam negeri pu­ja­an kamu itu?”
Saya kembali kemekmek. Membatu atas pertanya­an Erina yang seri­ngan balon udara.
“Nantilah, di Jakarta kamu akan tahu sendiri.”
“Kenapa tidak sekarang saja kamu sebut nama­nya?”
Saya tersipu. Mungkin bukan waktu yang tepat bila saya ungkapkan pera­saan ini padanya. Selain karena sudah jauh larut malam dan kecapekan, saya juga belum punya ke­be­ranian untuk mengatakan siapa sebenarnya sang idaman hati.
“Oh, come on, Rio. Jangan rahasia-rahasiaan begitu, dong!”
“Sudahlah, Rin. Nanti di Jakarta juga kamu akan ta­hu, kok.”
Gadis itu masih mendesak. Tapi saya sudah memu­tus­kan untuk tidak me­ngatakan siapa si Dia itu.
Karena segalanya pasti tidak akan terduga.

***

Grotte Markt di pusat kota tua Brussels masih tam­pak anggun. Sisi-sisi bangunannya yang disinari cahaya fajar yang memerah saga membayang seperti kesatria dari masa lampau. Saya terhenyak, tergebah dari lamunan. Pagi sudah me­nyapa bumi di belahan barat Eropa ini. Brussels perlahan ben­derang disapa sang mata dewa dari langit bagian timur.
Siang ini rombongan akan kembali ke Tanah Air. Ga­dis berambut emas itu berjanji akan datang mengantar kami ke bandara. Via telepon yang ber­de­ring di kamar hotel ma­lam kemarin juga, dia menyampaikan akan mem­berikan oleh-oleh dengan seribu ke­nang­an yang tak terlupa kepada sa­­ya.
Sebuah ciuman madu, begitu katanya. Tapi saya me­nolak dan bilang te­ri­ma kasih. Cukup cium jauh atau ci­um pipi saja. Karena kalau tidak, se­se­orang akan marah be­sar kepada saya.
Dan misuh-misuh tiga kali satu hari, persis seperti an­juran minum obat dari apotek (blogkatahatiku.blogspot.com)
 
Keterangan

*Bersama Andorra, Liechtein, Luxembourg dan San Marino, Bel­gia yang terdiri dari tiga etnis besar (Belanda, Perancis, dan Jer­man) biasa juga disebut sebagai negara liliput di Eropa. Liliput, ka­re­na luas daerahnya yang sangat kecil tidak sampai 20 ribu kilo­me­ter persegi, dengan jumlah penduduknya yang kurang lebih 10 ju­ta jiwa.