27 October 2013

BOYFRIEND FOR YOU, GIRL!

Oleh Weni Lauwdy Ratana

Foto: Dok KATA HATIKU
Tidak seperti biasanya Valny segelisah ini. Berkali-ka­­li diliriknya jam ta­­ngan army-look yang melingkar di perge­la­­ngan tangan kirinya. Sudah ham­pir se­jam. Namun gadis si Cu­­cakrawa itu sama sekali belum me­no­ngol­kan cuping hi­dung­nya yang dicocoki sebutir giwang berlian. Digebahnya ke­­­­pe­natan dengan mengangin-anginkan badan, duduk di gi­gir trotoar jalan depan rumahnya. Me­nung­gu dan menunggu. Ten­tu saja ini pekerjaan yang pa­ling mem­bo­san­kan se­du­nia. Dan hal itulah yang membuatnya menggerutu sepan­jang Su­ngai Nil.
Ini bukan date-nya yang pertama. Entah sudah bera­pa kali cewek cen­til itu mengenalkannya kepada cowok-co­­wok yang tidak jelas bibit-bobot-bebet­nya. Bahkan banyak wa­­jah cowok yang sudah tidak diingatnya persis la­gi. Se­mu­­a­n­ya sukses dito­lak­nya setelah kencan pertama. Ditolak, ka­re­­na sama sekali ti­dak ada yang masuk dalam ka­­tegori ‘sreg’. Tapi ten­tu saja ti­dak dengan ser­ta­­merta dia menam­pik me­reka. Dia memiliki sepe­rang­kat ra­sa terima kasih. Toh Aretha berbuat begini untuk kebaikannya juga.
Dua bulan lalu, Aretha pernah mengenalkan se­o­rang cowok dengan ga­­­­­ran­­si seumur hidup. Artinya, dia bakal co­cok dengan cowok itu. Dijamin ba­­­kal sampai ke pe­la­min­an.
“Huh, memangnya barang elektronik apa, pakai ga­ran­si segala ma­cam. Se­umur hidup pula!”
Dia mengumpat begitu pada waktu itu. Namun Are­tha mengatupkan ke­dua telapak tangannya ke dada tanda me­mohon ‘please’. Kalau kali ini dia sam­pai ngotot begitu, su­dah barang tentu ada hal yang bukan tanpa alasan.
Dan kemarin, secara sepihak serta setengah me­mak­sa dia membuat ap­pointment untuk mempertemukan me­reka kembali. Hari ini. Acaranya ra­da-rada for­mil meski ti­dak perlu memakai pakaian pesta yang BDH alias ‘bikin da­ga­ngan han­cur’ alias ribet. Hanya JJS nong­­krong di kafe, be­gi­tu katanya.
Tidak ada penolakan atas alasan apapun. Gadis itu per­gi begitu sa­ja se­telah mengultimatum dengan stempel ka­limatnya yang sesahih materai tem­­­pel. Membuatnya ke­mek­mek dengan beragam stori.
Satu hari sebelum cinta. Dia mendadak menggigil ke­dinginan di siang bo­long.

***

“Aku kasihan sama kamu.”
“Memangnya aku gembel yang minta dibelaska­si­hani.”
“Tentu saja bukan.”
“Jadi?”
“Jadi aku ingin kamu tuh juga punya gandengan.”
“Hei, memangnya aku motor apa?”
“Kamu jangan pura-pura.”
“Tentu maksud kamu bukan ‘kura-kura dalam pera­hu pura-pura tidak mau’, kan?”
“Kurang lebih sama.”
“Margaretha Nadya Esterina Simatupang!”
“Yap.”
“Untuk apa?”
“Kamu sahabatku.”
“Kontribusi apa yang pernah kulakukan untukmu….”
“Eit, jangan bicara balas jasa di sini.”
“Tapi….”
“Untuk hal ini, tidak ada tapi-tapian.”
“Seumur-umur aku tidak bakal dapat membalas ja­sa­mu.”
“Aku bukan biro jasa.”
“Kamu kelewat baik.”
“Sama semua orang juga aku baik, kok. Lagian, se­mua yang kulakukan untukmu memang tanpa pamrih.”
“Tapi….”
“Kamu pikir, aku akan menagih….”
“Bukan begitu….”
“Kalau begitu….”
“Etha, kapan sih kamu mulai mikirin diri kamu sen­di­ri. Setiap hari ka­mu selalu membantu orang lain sehingga ka­mu melupakan dirimu sendiri.”
“Orang senang aku ikut bahagia.”
“Ten­tu saja itu merupakan hal mulia. Tapi, kalau sam­pai kamu mene­lan­tar­kan dirimu sendiri untuk kepen­ting­an orang lain, itu kan tidak fair.”
“Tapi aku bahagia, Valny.”
“Oke, oke. Tapi, jangan bilang sampai nenek-nenek ka­mu baru dapat ga­coan. Comblangin orang lain sampai-sam­pai jodoh sendiri saja dilupain!”
Valny menghirup udara dalam-dalam. Aretha me­mang gadis paling aneh yang pernah dikenalnya. Solidaritas­nya sebagai sahabat melebihi sau­da­ra se­kan­­­­­dung. Padahal, ga­dis itu terlahir dari keluarga yang sangat ma­pan. Dua ho­tel bintang lima serta sebuah hipermarket waralaba asal Peran­­­cis di Jakarta me­ru­pakan saham mayoritas ayahnya. Per­feksitas yang ja­rang di­mi­liki oleh gadis-gadis lainnya. Dia merasa sangat beruntung me­mi­li­ki saha­bat dengan jiwa so­si­­al­nya yang tinggi.
“Tentu saja aku tidak ingin semenderita begitu. Ka­mu pikir enak apa pa­caran ala nenek-nenek. Apa-apa juga ti­dak bisa. Memangnya bisa pacaran avon­turir seperti kala re­ma­ja? Sama-sama bungy jumping, misalnya?”
“Hihihi. Itu sih masih mending….”
“Lho….”
“Soalnya, kalau pacaran ala nenek-nenek, takutnya sih gigi palsu me­re­ka akan nyangkut kalau sedang kiss, Etha.”
“Hahaha….”
“Itu berarti puber kelima puluh lima, dong.”
“Bukan, bukan. Itu sih sudah melewati pacaran emas, Val.”
“Pacaran platinum dong, namanya.
“Hihihi….”
Aretha memang selalu begitu. Tidak pernah meme­du­likan dirinya sen­diri. Setahunya, bukan tidak banyak co­wok sekeren model mendekatinya. Ha­­nya dia saja yang meng­gebahnya seperti mengusir tawon. Bukan itu saja cela­ka­­nya. Dia malah menyodorkan cowok-cowok ciamik itu ke­pada teman-teman ceweknya. Satu per satu dicomblangin. Se­ba­gian besar di antaranya su­dah pada jadian. Bu­kankah itu hal yang paling bodoh di dunia?!
Namun Aretha selalu mengelak kalau digurui. Dia bi­lang kalau jodoh itu tidak akan lari ke mana.
“Tak akan lari gunung diuber.”
“Tapi kamu bakal terbirit-birit dikejar uban.”
“Don’t worry be happy.”
“Kamu selalu begitu. Kapan sih kamu dapat serius de­ngan masa de­pan­mu sendiri?”
“Apa aku kelihatan tidak pernah serius?”
“Kamu adalah work a holic girl. Aku tidak kuatir un­tuk urusan lainnya semisal sekolahan ataupun masa depan pro­fesi kamu nantinya. Tapi, untuk soal ga­coan kamu tidak per­nah dapat serius.”
“Forget it, Val. Kamu jangan mengalihkan perkara. Kok ganti kamu yang comblangin aku?”
“Kamu masuk dalam warning. Kamu yang seharus­nya merupakan ob­yek da­lam perkara comblang-comblangan itu. Bukannya aku.”
“Tentu saja kamu yang lebih penting. Kalau tidak, ma­na mau aku ber­kor­ban perasaan begitu terhadap sauda­ra sepupuku itu.”
“Tapi….”
“Jeffry itu baik….”
“Dia….”
“Kamu yang kelewat pesimistis dan rendah diri. Be­lum apa-apa kamu sudah mundur.”
“Levelnya kelewat tinggi….”
“Dia rela merendahkan voltage-nya, berdiri sejajar de­ngan level ren­dah­mu itu! Dia bilang begitu ke aku, kok. Tapi, kamunya saja yang sudah kadung menutup pintu ha­ti­mu rapat-rapat.”
“Hei, aku bukan permen yang lupa pada bung­kus­nya, Non. Kalaupun dia merendahkan levelnya sampai jong­kok menyusur tanah sekalipun, belum tentu bokap-nyokap­nya interest sama aku.”
“Huh, kamu ini! Belum berperang sudah kalah. Atas da­sar dan alibi apa kamu mengklaim kalau bokap-nyokap­nya tidak suka sama kamu, semen­ta­ra pacaran saja belum.”
“Aku tidak mau disebut ‘pungguk yang merindukan bu­lan’.”
“Siapa bilang kamu ‘pungguk yang merindukan bu­lan’. Kamu itu ‘lan­dak yang merindukan matahari’.”
“Hei… kamu ngeledek aku, ya?”
“Ha­bis, rambut kamu pendek berdiri kaku begitu. La­gian, kamunya juga yang kelewat minderan, sih.”
“Lebih baik memiliki hormon minder ketimbang hor­mon adrenalin se­per­­ti gadis-gadis centil geng Nunu cs. Dari­pa­da malu-maluin, mending me­ng­ang­kat bendera putih. Ka­mu masih ingat kan, bagaimana mokal-nya Nunu sa­at dito­lak mentah-mentah oleh Pramudia. Sms cintanya dibaca­kan di de­pan anak-anak se­kelas. Satu sekolah juga tahu. Ih, ka­lau aku jadi Nunu, pas­ti aku sudah gan­tung diri.”
“Nah, karenanya itu kamu harus masuk UGD RSCM.”
“Apaan itu?”
“Unit Gawat Darurat – Rumah Sakit Cinta Muda-Mu­di.”
“Hei, kamu ini….”
“Kamu membutuhkan segera pertolongan pertama se­belum jodohmu ti­dak da­pat diselamatkan, dijemput sang malaikatulmaut.”
“Hei…  asal kamu, ya!”
“Come on, Val. Jeffry itu anak rumahan. Dia bukan ti­pe cowok bunglon. Co­wok lainnya yang suka gonta-ganti ce­wek kayak tukar baju. La­gi­an, aku du­lu­an yang akan meng­gorok lehernya kalau dia macam-macam sa­ma sohib ken­tal­ku. Trust me, please!”
“Hm, aku tahu dia baik….”
“So, apa lagi?”
Valny sadar apa yang selama ini diperjuangkan Are­tha. Bukan dia me­no­lak niat baik sahabatnya sejak di kelas sa­tu SMP itu. Bukan. Hanya sa­ja, dia me­ra­sa tidak sepadan de­ngan sepupu gadis kaya itu. Jadi, diputuskannya untuk ber­­­main petak umpet. Menghindari cowok itu dengan berba­gai alasan.
Tapi kali ini dia tidak dapat menghindar lagi. Gadis bla­ster Batak-Perancis itu sudah mengancam akan membe­ku­­kan persahabatan, sampai ada ke­pu­­­­tusan yang jelas ten­tang persetujuannya untuk diajak kencan perta­ma. Tentu sa­ja dia ta­hu kalau itu cuma gurauan yang dikemas dalam mi­mik seri­us sete­ngah memo­hon. Tapi melihat mimiknya yang ma­lah terasa lucu itu, dia jadi tidak tega un­tuk menolaknya la­gi. Lagipula, Jeffry merupakan pro­duk unggul jenis blaster yang tidak diragukan lagi kualitasnya. Ganteng,  ba­ik, dan ta­jir!
“Valny…!”
Gadis tomboi itu terkesiap. Lamunannya tergebah, me­layang sampai ke ang­kasa raya. Aretha menepuk pun­dak­nya, memasang wajah dan cengir tan­­pa do­sa ke arah­nya.
“Sori, kami terlambat. Biasa, kena macet,” ujarnya enteng seringan ka­pas.
Valny tergeragap. Hatinya berdetak melihat cowok se­pupu Valny itu. Se­makin keren. Jauh lebih keren ketim­bang beberapa bulan yang lalu saat dia ter­­ak­hir kali meli­hat­nya. Sekarang, mungkin dia harus menghimpun ke­be­­­rani­an un­­tuk menghadapi cowok yang diperkenalkan Aretha itu ke­pa­da­nya. Sebelum pe­ra­saan kurang pedenya itu menger­dilkan segalanya.
Ya, sebe­lum segalanya menjadi kerdil. (blogkatahatiku.blogspot.com)