19 January 2016

Angpau Imlek

BLOGKATAHATIKU/IST
Angpau Imlek
Oleh Effendy Wongso

All human being. Semua manusia memiliki masa­lah. Seberat apa, ha­nya hati masing-masing manusialah yang dapat mengejawantahkannya. Dan ka­rena masalah itu pu­lalah maka saya melarikan diri ke tempat teduh ini.
Klen­­teng Boen Tek Bio di Tangerang sehari men­jelang Imlek dipadati rim­ba ma­nu­­sia. Saya berdiri terpaku di si­ni. Lunglai menyaksikan hilir-mudik umat yang datang silih ber­ganti seperti tak ada henti-hentinya. Lalu menje­bak dan meng­himpit saya sendiri. Yang saat ini hanya dapat meng­i­bas-ibas­kan tangan menggebah asap oksidasi dupa yang me­­me­rihkan mata.
Saya tercenung setelah mengikuti ritual turun-temu­run itu. Sesaat sa­ya pandangi paidon raksasa di luar ger­bang klen­teng. Menatap lidi-lidi du­­­­pa yang bergeletar tertiup semi­lir angin serta mengembuskan asapnya hing­­­ga ber­­­gerak me­ling­kar ke atas. Bodohnya, saya selalu mengharap dupa yang sa­ya tancapkan tadi dapat menyam­pai­kan pesan pada de­wata di langit. Agar se­gera menyudahi lara dalam ke­luar­ga saya yang seperti tidak ada ha­bis-ha­bis­nya.
Semestinya saya ta­hu ka­lau se­ha­ri sebelum Imlek, tempat te­duh ini se­la­lu dipadati orang-orang yang khu­suk memohon syukur pada Sang Kha­lik. Bukannya mengharap datangnya mukjizat se­pe­rti sulap, dan mengu­bah se­orang gadis gembel menjadi Cin­derella. Semestinya saya sadar kalau be­sok ada­lah hari Iml­ek, Tahun Baru yang selalu menjanjikan hari-hari yang le­bih ba­ik dibanding hari-hari lalu. Bukannya mematung de­ngan benak baur, dan mengharap ada keajaiban yang dapat se­gera mengubah jalan hidup ke­luarga sa­ya.
Tapi naifnya, saya selalu pesimis memandang hari-ha­ri baru tersebut. Tak ada keceriaan dan senyum tulus kala ber­silaturahmi pada sanak keluar­ga. Tak terlihat keindahan lam­­pion-lampion merah yang tergantung pada la­ngit-la­ngit ka­nopi dan balkon ru­mah. Juga tak terdengar syahdu den­dang-den­­­dang ber­nuansa Imlek yang diputar bebe­ra­­pa war­ga Tionghoa di sepan­jang gigir Sungai Cisadane, Tangerang. Sung­guh. Sa­ya tak pernah meresapi ke­­ba­ha­­giaan itu. Dan anehnya, kehadiran saya serupa manekin di tem­pat te­­­­duh ini hanyalah me­­­ru­pa­kan kesia-siaan belaka!
Saya menggigit bibir. Airmata saya sudah bergulir. Sung­guh ironi yang sa­ngat bertolak belakang dengan kekhid­mat­an suasana menjelang Imlek be­sok. Saya ingin mem­ben­dung tangis, tapi saya tidak mampu. Lara itu me­ngu­ak di me­­mo­­ri kepala saya dan membilurkan giris kenangan. Ten­tang nes­ta­pa ma­sa la­lu. Tentang kemiskinan dan kepedihan per­juangan hidup ke­luar­ga ka­­­­­mi. Ten­tang kerasnya ha­ri-hari yang akan terlewati tanpa Papa sebagai ti­ang penopang ke­lu­arga kami lagi.
“Hai, Gadis Cina Benteng!”
Saya terkesiap. Satu tepukan yang menyertai kali­mat tadi menyentuh cu­kup keras di pundak saya. Saya saput le­kas airmata yang masih meng­gan­tung di pelupuk. Saya ke­nal baik suara itu. Kurang lebih tiga tahun saya ak­rabi suara ba­riton itu. Bersama-sama dalam suka dan duka di sekolah. Dan sa­­­­­ya hapal betul julukan yang selalu ia tujukan kepada sa­ya. Gadis Cina Ben­teng!
Gadis Cina Benteng?!
Hah, mendengar kalimat itu hati saya seperti ter­­ti­kam lagi. Banyak ke­nangan yang melatarbelakangi panggi­lan artifisial ter­­­sebut bagi saya. Cina Benteng merupakan ju­lu­kan bagi kebanyakan warga Tionghoa asal Tange­rang. Te­rus terang saya kurang paham asosiasi dan mak­na dari kali­mat itu. Ta­pi sudah turun-temurun julukan itu diberikan ke­pa­da war­ga Tionghoa asal Tangerang yang sudah berasi­mi­la­si dengan pen­du­duk as­­­li setempat. Jujur, saya senang deng­an panggilan itu. Sebab saya tahu ka­lau seorang Roy Chan­d­­ra pernah mencintai saya. Dan kalimat itu sering di­lon­tar­kan­nya dengan penuh afeksi, kelembutan dan kasih-sa­yang. Sayang saya me­nam­pik semua ke­baikannya. Lebih me­mi­lih merentangkan jarak dengan co­wok berwajah khas oriental itu kare­na menyadari strata sosial yang jom­plang di an­tara kami. Dan ketika kesepadanan menjadi tolok-ukur, ma­ka retak­nya hubungan antara kami tidak dapat dihin­dar­kan lagi.
“Hei, kamu kok nangis sih, Ailing?!”
Ya, Tuhan! Please, luputkan saya dari dari tatapan ma­tanya yang se­tajam elang! Sebab kalau tidak, sorot mata te­duhnya itu akan me­men­ja­ra­kan saya dalam kenangan-ke­nang­an lama yang, sudah lama saya ku­bur da­­lam-dalam.
“Eh, ka-kamu Roy? Kok kamu bisa berada di sini, sih?!”
“Klenteng adalah tempat ibadah untuk umum. Me­mangnya Roy Chan­dra tidak boleh kemari?”
Cowok itu mendelik, menyembulkan sederetan gigi­nya yang gading. Ia tampak lain dengan kemeja ala Cinanya. Ti­dak bergaya hippies lagi seperti bi­asanya. Yang enjoy me­ng­enakan kaus oblong dan celana jeans sobek-ro­bek seperti yang saya kenal sebelumnya.
“Sudah lama di klenteng ini?”
“Baru saja datang. Eh, kamu belum jawab perta­nya­an saya.”
"Tentang apa?"
“Tentang ini.”
Ya, Tuhan! Saputan gegas telapak tangan saya tadi tak sem­purna meng­hapus  airmata yang menggantung di pe­lu­puk. Roy memegang pipi saya de­ngan lem­but, dan meng­hapus titik airmata yang masih basir menempel di sa­­­na.
“Maksud kamu, airmata?”
Roy mengangguk. Kibasan rambut cat pirangnya yang sebahu tergerai me­ngi­ramai bahasa tubuhnya saat me­ng­a­takan ‘ya’ tadi. Saya berlagak te­ngil, me­nyandarkan ta­ng­an saya di bahunya yang lapang. Mencoba menya­mar­kan su­­asana hati yang tengah dirundung galau. Seolah tidak ber­ma­­salah dengan suasana hati.
“Bukan airmata tangis. Tapi airmata korban asap ok­sidasi dupa.”
Saya menggigit bibir. Sebuah tindakan yang sia-sia. Se­bab co­wok ber­­­­­tubuh jangkung itu kembali menggeleng dan menga­takan ‘ti­dak’ da­lam ba­ha­sa tubuh.
“Kamu jangan bohong!”
“Siapa yang bohong? Roy Chandra, Roy Chandra. Asap dupa di mana-ma­na. Nah, mataku tuh teriritasi asap du­­pa. Jadi, bukan nangis bombay se­perti sang­­ka­mu tadi.”
“Ailing, kalau ada masalah, kamu curhat dong!”
“Siapa juga yang punya masalah?”
“Kalau tidak ada masalah, tidak mungkin kamu na­ng­is begitu tadi.”
“Aduh, Roy. Aku tuh tidak nangis!”
Saya mengusap wajah. Roy tahu saya sedang berbo­hong. Tiga tahun ber­­samanya di SMP dulu telah mengakar­kan ikatan batin yang dalam di anta­ra kami. Ia tahu karakter sa­ya. Sebaliknya pun begitu. Dan saya menyesali ka­­rena mo­men kebersamaan suatu waktu dulu itu pulalah, sehingga ia ta­hu betul kalau saat ini saya tengah bersandiwara.

***

“Ada masalah apa, sih?”
“Ti-tidak….”
Roy belum menanggapi kalimat saya yang tak ram­pung barusan. Ia ma­­­­­sih berkonsentrasi mengemudikan BMW­-nya untuk markir di area parkir se­buah mal di Lippo Ka­­­rawaci. Sesaat ia tadi menarik tangan saya keluar da­ri klen­teng tanpa mempedulikan ka­limat separo protes saya, yang menolak untuk ikut de­ngannya barang se­bentar ke pu­sat kota.
“Ailing, saya ingin kamu jujur. Saya tahu kamu se­dang ada masalah. Ma­sa sih sama saya kamu juga harus me­nutup-nutupi masalah yang tengah ka­­mu hadapi itu?!”
“Saya tidak apa-apa, kok!”
“Siapa bilang?!” bantahnya dengan mimik tidak se­nang. “Airing, adik kamu yang bilang sendiri kok, kalau ke­lu­arga kalian tengah dirundung ma­sa­lah!”
Ya, Tuhan!
Airmata saya merembes tanpa sadar. Airing me­mang co­mel! maki sa­ya, gusar terhadap adik saya satu-sa­tu­nya itu. Ngapain juga ia meng­hubungi co­wok yang sudah la­ma tak pernah berhubungan lagi de­ngan sa­­ya sejak gra­du­asi SMP kami?! Huh, pasti ia mencuri tahu no­mor telepon co­wok itu dari di­ari saya!
“Dia menelepon saya, katanya….”

***
               
Kring….
“Halo….”
“Selamat siang.”
“Siang.”
“Maaf. Bisa bicara dengan Roy Chandra?”
“Ya, saya sendiri.”
“Kak Roy, ini Airing!”
“Airing?! Airing yang mana, ya?”
“Adik Ailing, teman Kak Roy sewaktu di SMP dulu.”
“Itu, lho. Yang biasa Kak Roy panggil Gadis Cina Ben­teng. Saya ini adiknya.”
“Ya, ampun! Airing?! Airing kok suaranya lain, sih?”
“Ya terang lain, Kak Roy. Airing sekarang kan sudah SMP. Dulu waktu Kak Roy masih sering main ke rumah, Ai­ring masih culun. Kalau tidak salah ma­sih ke­las enam SD.”
“Ya, ampun. Saya lupa kalau kamu sekarang tuh su­dah gede. Eh, ka­mu telepon dari mana? Maksud saya, kamu se­karang di mana? Masih di Ta­nge­­rang?”
“Iya. Kami masih di Tangerang, Kak Roy. Airing me­ne­lepon di wartel dekat rumah.”
“Hm, bagaimana keadaan kalian? Sehat-sehat saja, kan?”
“Ya, kami sehat-sehat saja, Kak Roy. Tapi, Papa su­dah meninggal enam bulan yang lalu!”
“Ya, Tuhan! Maaf, saya tidak tahu….”
“Kak Roy, Airing tidak mengganggu kan?”
“Oh, tidak, tidak. Saya malah senang bisa ngobrol la­gi dengan kamu. Hm, Ailing kakak kamu sekarang di ma­na?”
“Di Klenteng Boen Tek Bio, Kak Roy.”
“Ah ya, besok kan Imlek?”
“Iya, Kak Roy. Kak Roy, Airing pingin berterus terang. Boleh?”
“Ada apa, Airing?”

***

“… setelah berterus terang dan menceritakan masa­lah keluarga ka­li­an, saya langsung cabut dari rumah dan men­cari kamu di klenteng tadi.”
 “Airing lancang!”
 “Jangan salahkan adik kamu, Ailing. Ini inisiatif saya untuk membantu se­men­­tara keuangan kalian, kok.”
“Tapi saya bisa mengatasi masalah keluarga saya, kok!”
 “Jangan keras kepala begitu. Anggap saja ini kredit ka­lau kamu tidak mau terima secara ikhlas. Lagipula, me­mang­nya kamu dan keluarga kamu mau tinggal di kolong jem­batan apa?! Ingat, rentenir Papa kamu itu tidak mau kom­promi kasih kamu waktu untuk cari uang buat melunasi hu­tang-hu­tang Pa­pa kamu. Lusa setelah Imlek, mereka pasti da­tang lagi dan menyita rumah gubuk kalian.”
 “Tapi….”
Entah mengapa, tiba-tiba hari ini saya seperti men­jadi gadis yang pa­ling cengeng sedunia. Airmata saya kem­ba­li bergulir menanggapi kebaikan ha­­ti Roy. Setelah mende­ng­ar masalah keluarga kami dari Airing, cowok itu lang­­sung ber­inisiatif membantu keuangan keluarga kami dengan me­lu­nasi hu­­­­­tang-hutang mendiang Papa kepada seorang tauke di Tanjung Burung. Se­ma­sa hi­dup­nya, mendiang Papa me­mang pernah meminjam uang kepada ren­tenir tersebut un­tuk buka usaha kelontong di kawasan Pasar Lama, de­ngan agu­nan surat berharga kepemilikan ru­mah kami. Meski ti­dak seberapa banyak, tapi kian hari pinjaman ter­sebut mem­beng­kak lantaran bunganya yang tinggi berkali-kali lipat. Se­wak­tu Pa­pa sakit-sakitan karena tubercu­lo­sis, usaha ke­lon­tong Papa tersebut terus me­ne­rus menurun dan akhirnya bang­krut. Meski be­gitu, pinjaman tersebut tetap ha­rus di­lu­nasi.
“Terimalah, Ailing.”
Saya tepis amplop berwarna coklat berisi uang yang di­sodorkan Roy kepa­da saya dengan sikap sedikit kasar. Am­plop itu terpental di atas dash­bo­­ard mobil. Roy meme­jam­kan matanya menahan amarah yang mengubun. Di­­ben­tur­­kan­­nya telapak tangannya tanpa sadar di atas kemudi. Klak­son me­raung me­mekakkan. Saya terentak kaget. Tidak me­nyangka co­wok bermata teduh itu dapat segusar begitu.
“Te-terima kasih, Roy. Tapi maaf, saya tidak bisa me­ne­rimanya!”
“Kenapa?! Gengsi?!” Roy menggunturkan kalimat­nya. “Kamu ini selalu jaim, Ailing!”
“Ta-tapi….”
“Dulu, sewaktu kita di SMP pun kamu selalu begitu. Ka­­mu tidak mau me­nerima apa-apa yang saya berikan. Ka­do ulangtahun. Kado valentine. Se­muanya kamu tolak. Heh, har­ga diri kamu terlalu tinggi, Ailing!”
Saya tercekat dengan kerongkongan memerih. Ke­na­ng­an lama itu kem­­­­­­­­­­­­­­bali melintas di benak saya. Memang be­nar. Ailing Lim yang pelajar SMP itu selalu jaga jarak deng­an anak konglo Roy Chandra. Ailing Lim yang ABG itu selalu me­nolak ketulusan anak tunggal pengusaha garmen ka­ya ters­ebut karena tahu diri. Sampai-sampai co­wok ramah ser­ta baik hati itu merasa ter­si­sih dan terpinggirkan. Dan meng­anggap seorang Ailing Lim tak pernah men­cin­tainya. Pada­hal….
“Ailing, please… terimalah! Anggap saja saya mem­ban­­tu Mama kamu, juga Airing adik kamu!”
“Tapi….”
“Tidak ada tapi-tapian. Harus kamu terima, atau sa­ya akan memusuhi kamu seumur hidup. Dan akan melupa­kan kamu selama-lamanya!”
Saya kembali menangis sampai ujung rambut saya yang sebahu lepek oleh airmata. Entah karena tidak punya pi­lihan dan cara lain untuk melunasi hutang men­­diang Papa, ak­hirnya saya terima juga amplop coklat yang masih diso­dor­kan Roy dengan paksa. Diam-diam saya melirik. Cowok itu tersenyum dengan mimik menang.
“Te-terima kasih ya, Roy. Suatu saat pasti akan saya kembalikan!”
“Oh, harus, harus. Di dunia ini mana ada sih yang gratis.”
Saya mengernyit. “Maksud kamu….”
“Begini, uang ini tidak usah kamu kembalikan da­lam bentuk cash. Ta­pi, anggap saja gaji kamu selama mene­mani saya JJS sehari-harian ini.”
“Hei….”
“Eit, jangan ngeles! Kamu sudah menerima uang, be­r­arti sekarang ka­mu harus patuh bekerja menuruti maji­kan.”
“Hei….”
“Nah, sekarang ikut saya borong-borong di mal. Te­na­ga kamu saya per­­­­­lukan untuk gotong-gotong belanjaan.”
“Un-untuk apa?”
“Untuk Imlek besok. Memangnya kamu, Airing, dan Mama kamu tidak perlu….”
“Ja-jangan….”
“Tidak boleh membantah majikan. Ayo, cepat!”
Saya terkikik melihat tingkah Roy yang lucu. Rasa­nya keajaiban telah diturunkan dewata dari langit untuk sa­ya. Tiba-tiba saya serasa menjadi Cin­de­­rella. Gadis gembel yang paling beruntung di dunia karena dianugerahi se­orang Pangeran yang tampan rupawan.
Thank’s God! Terima kasih telah memberikan saya angpau yang paling indah di hari Imlek besok.