14 April 2018

Chocolate Cookies, minuman fenomenal Waroenk Kupang

Dalam jajaran Monster Shake di Waroenk Kupang, ada satu minuman yang benar-benar ‘fenomenal’, yaitu Chocolate Cookies. Karena sangat digemari pelanggan, minuman ini sudah menjadi menu ikonik Waroenk. / Effendy Wongso

britaloka.com, KUPANG – Sebagai bagian dari kuliner, minuman tidak hanya sebagai pelengkap kegiatan bersantap. Pasalnya, minuman di kekinian sudah menjadi salah satu objek kuliner yang di “zaman now” sudah bukan dikotomi atau hal yang bertentangan sama sekali terhadap makanan itu sendiri, tetapi menjadi gaya hidup yang kerap disebut “dine with style”.
Selain cita rasa segar dari minuman tersebut, topping-topping yang mempercantik tampilan sebuah minuman dianggap penting, sebab menjadi media dari gaya hidup.
Penikmat kuliner tidak sekadar makan atau minum, tetapi menjadikan objek minuman itu untuk berswafoto atau selfie dan mengunggahnya di media sosial (medsos) mereka. Hal tersebut dapat dimafhumi karena itulah gaya hidup yang terjadi dalam dunia kuliner saat ini.
Untuk itulah, sebagai destinasi kuliner di Kota Kupang yang senantiasa tampil pionir melahirkan menu-menu unik, beda, dan lezat sebagaimana tujuan maupun visi resto dan kafe dengan logo “koki berkumis” ini, maka manajemen Waroenk terus berinovasi dan berkreasi meluncurkan makanan maupun minuman yang terbilang “wow”, bahkan melebihi ekspektasi pelanggan.
“Terkait minuman, dalam jajaran Monster Shake kami khususnya, ada satu minuman kami yang benar-benar ‘fenomenal’, yaitu Chocolate Cookies. Karena sangat digemari pelanggan, minuman ini sudah menjadi menu ikonik Waroenk,” terang Public Relation and Representative Admin Waroenk, Merlin Sinlae dalam keterangan resminya di Waroenk, Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang, Sabtu (14/4/2018).
Menurutnya, Chocolate Cookie disukai pelanggan karena unik. “Minuman berbahan cokelat itu biasa, tetapi jika digemari hingga ‘addict’ seperti ini, maka pasti ada ‘something special’. Sehingga, minuman ini terus merajai penjualan minuman di Waroenk,” beber Merlin.
Ia menambahkan, kepopuleran Chocolate Cookie juga tidak lepas dari bahan utama yang menggunakan bubuk cokelat berkualitas, susu, oreo, dan ice cream. Apalagi, harga yang dibanderol pihaknya sangat terjangkau Rp 26 ribu.
“Minuman kategori Monster Shake kami ini tidak hanya digemari anak-anak, tetapi juga anak muda dan dewasa. Jadi, secara umum Chocolate Cookies ‘kena’ di segala usia,” imbuh Merlin.
Dijelaskan, selain Chocolate Cookies, pihaknya juga menyediakan minuman dalam kategori Monster Shake lainnya, di antaranya Funcy Ggummy Rp 31 ribu, Strawberry Breeze Rp 31 ribu, dan Bluefaloo Rp 31 ribu.

13 April 2018

Curry Katsu Rice Waroenk Podjok, kari Jepang yang populer di dunia

Salah satu menu ikonik Jepang yang diangkat manajemen Waroenk Podjok adalah Curry Katsu Rice. Makanan ini kerap disebut "kari Jepang", berisi ayam goreng crispy bersaus teriyaki yang disajikan bersama nasi dan salad. / Effendy Wongso

britaloka.com, KUPANG - Restorasi Meiji yang diimplementasikan kaisar muda Meiji di era Meiji pada 1866-1869, membawa perubahan yang demikian besar dalam tatanan pemerintahan Jepang, baik teknologi maupun ekonomi.
Dalam ekonomi, kuliner sebagai salah satu gestur penting juga merambah berbagai belahan dunia. Makanan Jepang menadi ikon dunia, dengan berbagai cita rasa yang diadaptasi dalam budaya lokal setiap negara.
Sebagai resto dan kafe representatif yang diklaim sudah menjadi destinasi kuliner di Kota Kupang, Waroenk Podjok yang berada di bawah manajemen Waroenk, tidak ketinggalan mengangkat menu populer dunia yang berasal dari Jepang.
“Salah satu menu ikonik Jepang yang kami angkat adalah Curry Katsu Rice. Makanan ini kerap disebut ‘kari Jepang’, berisi ayam goreng crispy bersaus teriyaki yang disajikan bersama nasi dan salad,” jelas Marketing Communication and Public Relation Waroenk Podjok, Yunita Kitu dalam keterangan resminya di Waroenk Podjok, Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Oebobo, Kupang, Jumat (13/4/2018).
Menurutnya, seperti menu dalam jajaran Asian and Japanese Corner pihaknya, khususnya makanan berbahan kari, Curry Katsu Rice juga disukai lantaran memiliki cita rasa yang eksotik sebagaimana kari-kari dari Asia Selatan yang khas dan beraroma kuat.
Dibanderol Rp 45 ribu, sebut Yunita, kari Jepang berbahan utama ayam goreng crispy (chicken katsu) tersebut, selama diluncurkan pada 2 Maret 2018 lalu, mendapat apresiasi yang cukup bagus dari penikmat kuliner di daerah berjuluk Kota Sasando.
“Di Waroenk Oebufu dan Waroenk Podjok, berbagai makanan Jepang sangat digemari. Di Waroenk Oebufu, Katsu Rice Sambal Matah yang merupakan paduan makanan Jepang-Bali bahkan sudah menjadi menu ikonik yang identik Waroenk Oebufu sendiri. Kalau di Waroenk Podjok, selain Hambuga Pepper Rice, Curry Katsu Rice juga termasuk salah satu menu ala Jepang kami yang paling diburu dan menempati rating penjualan tertinggi,” bebernya.
Yunita menjelaskan, menu Jepang saat ini sudah bukan menu asing lagi. Hidangan dari Negeri Sakura bahkan sudah banyak diracik serta dikolaborasikan dengan makanan Nusantara.
“Ini dapat dilihat dari Katsu Rice Sambal Matah-nya Waroenk Oebufu yang dikombinasikan dengan Sambal Matah khas Bali. Karena masih terlahir dalam kawasan Asia, banyak rempah atau bumbu hidangan untuk makanan Jepang tidak sulit dicari dan dipadu-padankan dengan menu nasional. Jadi, cita rasanya tetap otentik, begitu pula Curry Katsu Rice ini,” imbuhnya.
Yunita menambahkan, di Jepang terdapat banyak menu kari seperti Saba Kare (kari makerel), Ringo Kari (kari apel), Natto Kare, Nagoya Kochin Chikin Kare (kari ayam Nagoya), Matsusaka Gyu Kare (kari sapi Matsusaka), Kaki Kare (kari tiram), dan masih banyak varian kari lainnya.
Sekadar diketahui, berbagai jenis dan variasi kari Jepang terus berkembang, masing-masing menggunakan bahan pangan khas kawasan tersebut. Hal itu tidak terlepas dari kemudahan informasi online, dan secara tidak langsung telah membantu perkembangan kuliner berbahan kari ini.
Sejatinya, hidangan kari biasanya disajikan dalam tiga bahan pokok utama, di antaranya nasi kari (Kare Raisu), Kare Udon (semacam mie tebal), dan Kare-pan. Nasi kari Jepang biasanya secara sederhana disebut “kare” saja.
Berbagai jenis sayuran dan daging digunakan untuk membuat kari Jepang. Sayuran dasar adalah bawang bombai, wortel, dan kentang. Untuk daging, daging sapi dan ayam adalah yang paling populer. Katsu-kare adalah daging sapi goreng tepung disajikan dengan saus kari.
Dari berbagai literatur kuliner dunia, disebutkan kari sejatinya berasal dari India dan daerah lainnya di kawasan Asia Selatan. Akan tetapi, dalam perkembangannya kari orisinal India telah dikombinasikan dengan mencampurkan bubuk kari dengan tepung terigu sehingga menjadi roux.
Roux adalah campuran antara tepung dan lemak yang dimasak bersama. Pelaku kuliner bisa menggunakan tetesan lemak seperti dari daging, mentega, margarin, atau jenis lemak lainnya untuk membuatnya.
Roux bisa digunakan sebagai bahan dasar dan pengental untuk Gumbo (sejenis hidangan yang berasal dari Louisiana yang diracik orang-orang Kreol Louisiana pada abad ke-18) serta sup lainnya yang kental dan kaya rasa.
Roux sendiri dikembangkan orang Inggris yang kemudian memperkenalkannya ke Jepang pada era Meiji. Kebanyakan rumah tangga di Jepang membuat kari dari berbagai roux kari siap masak yang tersedia di pasar-pasar swalayan di Jepang.
Ada berbagai rasa roux siap masak, dari yang pedas sampai yang manis. Ada juga roux dengan cita rasa India serta cita rasa ala Thailand yang dicampur santan.
Juga ada banyak variasi setempat yang mencerminkan berbagai bahan khas daerah-daerah di Jepang. Di Hiroshima, ada kari dengan tiram, sementara apel tampil menyolok pada kari di daerah produsen apel, Aomori.
Kari tidak hanya disajikan dengan nasi, orang Jepang memunculkan berbagai kombinasi menarik. Misalnya, kari dituangkan pada semangkuk mie soba atau udon. Kari juga biasa menjadi bahan isi untuk roti goreng dan kroket.
Kari mulai diperkenalkan ke Jepang pada masa era Meiji (1868-1912) oleh orang-orang Inggris, yang kala itu menjajah India. Hingga saat ini, hidangan kari menjadi demikian populer dan dapat dibeli di pasar-pasar swalayan. Hidangan tersebut telah beradaptasi dengan selera Jepang, dan dikonsumsi begitu meluas sehingga ada yang menyebutnya masakan nasional Jepang.
Lantaran masakan ini diperkenalkan ke Jepang melalui perantara Inggris, pada awalnya hidangan itu dianggap masakan Barat. Kari gaya Barat ini kini hadir bersamaan dengan kari asli India, dan meluas sejak populernya kari India di awal dasawarsa 1990-an.
Kari Jepang dapat disajikan dalam wadah piring datar hingga mangkuk sup. Kuah kari kental disiramkan di atas nasi putih dengan berbagai cara dan sebanyak sesuai selera.
Beras Jepang yang agak lengket dan berbulir pendek lebih disukai ketimbang beras biasa yang digunakan dalam masakan India dan Tiongkok. Biasanya, hidangan ini dimakan menggunakan sendok, bukan sumpit layaknya kebudayaan makan orang-orang di Asia Timur Jauh.
Penyebabnya, tidak lepas dari sifat cair kuah kari yang biasanya disajikan bersama berbagai tsukemono (acar Jepang) seperti fukujinzuke atau daun bawang.

12 April 2018

Berwadah unik, Sapo Tahu Ayam Waroenk Podjok menarik dijadikan spot selfie


Salah satu varian sup di Waroenk Podjok Kupang dalam jajaran Asian and Japanese Corner adalah Sapo Tahu Ayam/Seafood yang masing-masing berbanderol cukup terjangkau Rp 37 ribu dan Rp 42.500 ribu. / Effendy Wongso
britaloka.com, KUPANG – Boleh dibilang, saat ini aktivitas bersantap tidak sekadar makan. Artinya, ada tujuan lain yang bukan hanya untuk mengisi perut namun yang terjadi pada “zaman now” berkaitan erat dengan gaya hidup.
Hal itu kerap disebut “dine with style”. Ini dapat dilihat dari kelakuan seseorang atau keluarga maupun komunitas yang kerap selfie (swafoto) dengan latar belakang makanan sebelum disantap seseorang, keluarga, maupun komunitas.
Pelaku kuliner saat ini masif menawarkan tempat usahanya dengan hal-hal terkait gaya hidup. Penyediaan spot selfie misalnya, setting ruangan yang unik bahkan “nyeleneh” seperti yang dapat dilihat dari interior maupun peralatan makan ala penjara pada konsep rumah makan waralaba berlabel Mie Rampok.
Itulah beberapa contoh yang dapat dilihat dari implementasi “dine with style” pada resto maupun kafe di kekinian.
“Salah satu tujuan pelanggan bersantap di rumah makan representatif, tentu tidak terlepas dari cita rasa makanan itu sendiri. Tetapi, cita rasa makanan yang mumpuni saja tidak cukup untuk memuaskan pelanggan ‘zaman now’. Ada saja ekspektasi yang mereka inginkan, dan itu tidak terlepas dari gaya hidup,” terang Marketing Communication and Representatif Admin Waroenk Podjok, Noncy Ndeo dalam keterangan resminya di Waroenk Podjok, Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang, Rabu (11/4/2018).
Untuk mencapai customer satisfaction atau tingkat kepuasan pelanggan, sebut Noncy, pihaknya pun berusaha menghadirkan atau menawarkan apa yang diinginkan pelanggan.
“Suara pelanggan, tidak terkecuali dalam dunia kuliner adalah ‘soul’ kami. Untuk itulah, kami senantiasa sebisa mungkin untuk mengakomodir kemauan pelanggan. Perlahan, meskipun tidak sesempurna ekspektasi mereka,” imbuhnya.
Ia mengatakan, ekspektasi pelanggan yang mengingkan hal terbaik salah sastunya adalah dengan menghadirkan makanan yang tetap panas.
“Salah satu varian sup kami dalam jajaran Asian and Japanese Corner adalah Sapo Tahu Ayam/Seafood yang masing-masing kami banderol cukup terjangkau Rp 37 ribu dan Rp 42.500. Dengan menggunakan claypot atau ‘mangkuk bertudung’ khusus, makan panasnya tetap terjaga dan awet sehingga makanan yang disajikan di atas meja pelanggan tetap ‘fresh’, terutama panasnya,” ujar Noncy.
Dijelaskan, Sapo Tahu adalah olahan tahu Jepang (meskipun sebagian pengamat kuliner mengatakan berasal dari Tiongkok) dengan sayuran, jamur, dan ayam atau seafood). Dengan menggunakan wadah khusus tadi yang memang dirancang untuk ‘mengawetkan’ panas, maka Sapo Tahu yang lazimnya dikonsumsi selagi panas, tetap lezat dan berkuah gurih.
Noncy mengatakan, makanan yang diluncurkan bersamaan pembukaan Waroenk Podjok di Transmart Kupang pada 2 Maret 2018 lalu, mendapat apresiasi yang cukup baik dari penikmat kuliner di Kota Kupang.
“Apresiatif, masih masuk dalam selera lidah masyarakat di sini. Menu berkuah kami ini juga disukai ekspatriat, terutama dari Tiongkok dan Jepang. Jadi, bagi yang ingin mencicipi otentikasi menu Asia, hanya di Waroenk Podjok tempatnya,” urainya berpromosi.
Terkait target penjualan dari manajemen, Noncy enggan menyebutnya. Ia hanya mengungkapkan sebisa mungkin sebanyak-banyak. “Sebanyak-banyaknyalah. Kalau bisa, makanan ini juga bisa menjadi menu ikonik seperti makanan kami lainnya seperti Nasi Iga Goreng Sambal Bawang dan Nasi Goreng Kebuli,” bebernya.
Sekadar diketahui, Sapo Tahu, baik berimbuh ayam maupun seafood, adalah salah satu jenis masakan yang berasal dari Tiongkok. Sapo Tahu ini awalnya dikenal sebagai masakan bagi para vegetarian karena bahan-bahannya tidak menggunakan daging atau ikan, melainkan sayur dan rempah-rempah
Kendati demikian, dalam perkembangan selanjutnya ada perubahan pada masakan Sapo Tahu dengan masuknya bahan-bahan seperti udang, ikan, dan daging. Dalam acara-acara pesta, Sapo Tahu tergolong sebagai hidangan pembuka.
Nama sapo berasal dari penggunaan panci sapo atau claypot yang digunakan untuk memasak hidangan ini. Claypot berbeda dengan mangkuk lainnya lantaran terbuat dari bahan keramik.
Keunggulannya dapat menyimpan panas lebih lama dibanding panci biasa, sehingga hidangan bisa tetap hangat hingga tetes terakhir. Sapo memiliki banyak jenis, seperti sapo tahu, sapo seafood, sapo ayam, dan lain-lain.
Sapo biasanya langsung dimasak dalam claypot dengan menggunakan egg tofu atau Tahu Tiongkok yang bertekstur halus dan lembut. Agar tahu tidak hancur harus digoreng terlebih dulu.
Beberapa bahan yang diperlukan dalam pembuatan Sapo Tahu antara lain tahu Jepang, jamur merang, wortel, sawi putih, bakso ikan, daging ayam, daun bawang, seledri, bawang bombai, bawang putih, cabai merah, saus tiram, kecap ikan, kaldu ayam, minyak wijen, dan tepung maizena.
Di beberapa restoran, Sapo Tahu disajikan secara menarik di atas mangkuk keramik khas Tiongkok. Hal ini bertujuan agar Sapo Tahu tetap terjaga kehangatannya supaya tetap nikmat disantap saat masih hangat.
Selain fungsi tersebut, penggunaan wadah-wadah unik dan “cantik”, menjadi daya tarik tersendiri untuk dijadikan spot swafoto bagi pelanggan.

10 April 2018

Sate Lilit Waroenk Podjok, makanan khas Bali yang menggiurkan

Sate Lilit sendiri yang sudah masyhur sebagai menu ikonik Nusantara, saat ini juga hadir di Waroenk Podjok, Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Kupang. / Effendy Wongso

britaloka.com, KUPANG - Salah satu keunggulan Indonesia selain berlimpahnya sumber daya alam, juga tidak lepas dari beragam budaya dan khazanah kulinernya.
Terkait kuliner, di setiap daerah Nusantara pasti terdapat makanan khas dengan cita rasa lezat tersendiri. Sebut saja Rendang di Sumatera Barat, Sop Konro di Sulawesi Selatan, Bubur Manado di Sulawesi Utara, Soto Betawi di DKI Jakarta, Sate Lilit di Bali, dan masih banyak menu nasional lainnya.
Sate Lilit sendiri yang sudah masyhur sebagai menu ikonik Nusantara, saat ini juga hadir di Waroenk Podjok, Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Kupang.
“Alasan kami mengangkat Sate Lilit di Waroenk Podjok tidak lepas kepopuleran menu ini, tidak hanya di Bali secara domestik, tetapi secara global sudah menjadi menu nasional,” terang Marketing Communication and Representative Admin Waroenk Podjok, Noncy Ndeo dalam keterangan resminya, Selasa (10/4/2018).
Menurutnya, seperti makanan khas daerah lainnya yang sudah masuk dalam daftar menu di Waroenk Podjok, Sate Lilit yang diluncurkan pihaknya bersamaan pembukaan Waroenk Podjok di Transmart pada 2 Maret 2018 lalu, memiliki cita rasa dan keunikan tersendiri.
“Aroma ‘panggang’ daging ayam yang melingkar pada kayu tusuk Sate Lilit inilah yang disukai penikmat kuliner. Jadi, bagi penyuka menu berbahan daging ayam, Sate Lilit berisi delapan tusuk dalam satu porsi ini adalah makanan yang menggiurkan. Apalagi, menu ini juga diimbuhi plecing kangkung dan sambal mata yang juga sambal khas Bali,” papar Noncy.
Ia menambahkan, animo pelanggan terhadap menu asal Pulau Dewata tersebut cukup bagus. Terbukti, makanan yang masuk dalam jenis ala carte di Waroenk Podjok ini menempati rating tinggi dalam list permintaan, baik makan di tempat maupun take away.
“Apalagi, harga yang kami banderol untuk Sate Lilit ini cukup terjangkau hanya Rp 35 ribu,” kata Noncy.
Sekadar diketahui, sejatinya Sate Lilit adalah varian sate asal Bali. Sate ini terbuat dari ayam, ikan, dan daging sapi yang dicincang  kemudian dicampur parutan kelapa, santan, jeruk nipis, bawang merah, dan merica.
Daging cincang yang telah berbumbu dilekatkan pada sebuah bambu kemudian dipanggang di atas arang.
Tidak seperti sate lainnya yang dibuat dengan tusuk sate yang pipih dan tajam, tusuk sate lilit berbentuk datar dan lebar. Permukaan yang lebih luas memungkinkan daging cincang untuk melekat. Istilah lilit dalam bahasa Bali dan Indonesia berarti “membungkus”, yang sesuai cara pembuatan sate ini.
Sebagai pulau dengan mayoritas pemeluk agama Hindu, daging sapi atau ikan lebih menjadi pilihan lantaran daging sapi sebenarnya pantang dikonsumsi di Bali.
Namun, untuk memenuhi konsumen Muslim, Sate Lilit menggunakan daging sapi sapi atau daging ayam. Di pusat-pusat perikanan Bali, seperti Desa Kusamba yang menghadap ke Selat Nusa Penida, Sate Lilit yang terbuat dari ikan sangat disukai.
Dua sate favorit asal Bali adalah Sate Lilit dan sate ikan. Sate Lilit dan sate ikan yang asli, kaya campuran rempah-rempah.
Di Bali, hampir setiap hidangan dibumbui bumbu “megenep” atau campuran rempah-rempah seperti daun jeruk, santan, bawang putih, bawang merah, lengkuas, ketumbar, kunyit, dan cabai

08 April 2018

Ayam Goreng Kremesan Waroenk Podjok, menu legenda Nusantara sejak zaman Jepang


Sebagai salah satu resto dan kafe representatif yang sudah menjadi destinasi kuliner di Kota Kupang, Waroenk Podjok tidak ketinggalan mengangkat menu “legenda” yang sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang di Indonesia, yaitu Ayam Goreng Kremesan. / Effendy Wongso
britaloka.com, KUPANG - Menu berbahan ayam, baik ayam kampung maupun broiler yang lebih sering disebut ayam potong, saat ini menjadi salah satu bahan daging yang paling banyak dikonsumsi penikmat kuliner.
Berbagai kreasi makanan yang menggunakan bahan dari unggas ini digemari lantaran keefisienannya. Para peternak tidak terlalu sulit mengembang-biakkan ayam, khususnya ayam potong karena ditunjang teknologi mutakhir dalam peternakan, terutama pakan.
Adapun olahan kreatif dari makanan berbahan ayam tersebut di antaranya Ayam Goreng Kremesan.
Sebagai salah satu resto dan kafe representatif yang sudah menjadi destinasi kuliner di Kota Kupang, Waroenk Podjok tidak ketinggalan mengangkat menu “legenda” yang sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang di Indonesia, yaitu Ayam Goreng Kremesan.
“Sejatinya, Ayam Goreng Kremesan menggunakan bahan daging ayam kampung. Meskipun dibombardir kehadiran ayam broiler di era 1980 hingga saat ini, tetapi ayam kampung tetap memiliki penikmat tersendiri,” jelas Marketing Communication and Representative Admin Waroenk Podjok, Noncy Ndeo dalam keterangan resminya di Waroenk Podjok, Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Kupang, Minggu (8/4/2018).
Ia menambahkan, selain cita rasa gurih daging ayam kampung yang menjadi kontribusi kepopuleran Ayam Goreng Kremesan, hal lain yang juga menjadi penentu digemarinya makanan ini tidak lepas dari penggunaan kremesan renyah.
“Ayam Goreng Kremesan adalah kreasi masakan yang dibuat dengan teknik menggoreng. Caranya, daging ayam kampung digoreng dengan baluran tepung terigu yang telah dibumbui (kremes), dan digoreng hingga matang kecokelatan,” imbuhnya.
Noncy menjelaskan, sensasi “kriuk” yang dihasilkan dari remah tepung terigu menjadikan olahan ini disebut “ayam kremes” atau ayam kriuk di beberapa tempat.
“Mirip ‘ayam kentucky’, namun baluran tepung pada Ayam Goreng Kremesan lebih berbentuk remah-remah. Perbedaan mendasar lainnya dibandingkan ayam kentucky karena menggunakan bahan daging ayam kampung, bukan ayam broiler seperti pada ayam kentucky,” paparnya.
Ditambahkan, proses pembuatan Ayam Goreng Kremesan juga jauh lebih sulit. Pasalnya, saat membuat “kremesan” sangat mudah melempem (luyak) dan menggumpal tidak karuan saat digoreng. Sehingga, dibutuhkan teknik tersendiri.
Di Waroenk Podjok, sebut Noncy, Ayam Goreng Kremesan dibanderol cukup terjangkau Rp 40 ribu.
Ayam Goreng Kremesan Waroenk Podjok, menu legenda Nusantara sejak zaman Jepang,” jelasnya.
Noncy berharap, hadirnya menu Ayam Goreng Kremes di Waroenk Podjok bisa memberi pilihan berbeda bagi penikmat ayam goreng yang sudah bosan makan ayam goreng yang biasa-biasa saja.
Sekadar diketahui, sejatinya Ayam Goreng Kremesan merupakan kreasi resep ayam goreng temurun dari “Mbok Berek” yang sudah dikenal di Yogyakarta sejak masa penjajahan Jepang.
Nama Mbok Berek merupakan sebutan untuk Nini Ronodikromo yang memiliki nama panggilan Nyi Rame, istri dari Roniro yang lebih sering dipanggil Djakiman. Keduanya tinggal di desa Candisari, Yogyakarta, dan memiliki enam orang anak, yaitu Samidjo Mangundimedjo, Saminten Pawirosudarsono, Sukinah Mulyodimejo, Tumirah Martohanggono, Saminun, dan Suwarto.
Salah seorang anak Nyi Rame sangat rewel dan sering menangis hingga menjerit-jerit (dalam bahasa Jawa disebut “berek-berek”), sehingga membuat Nyi Rame memiliki panggilan baru, yaitu Mbok Berek.
Nama tersebut akhirnya menjadi ciri khas ayam goreng kremes yang dijualnya hingga keturunannya.

07 April 2018

Iga Panggang Citrus Waroenk Podjok, sensasi iga panggang beraroma jeruk

Animo pelanggan Waroenk Podjok, khususnya penikmat kuliner yang menyukai varian iga, sangat apresiatif menyambut hadirnya Iga Panggang Citrus. / Effendy Wongso

britaloka.com, KUPANG – Jika penikmat kuliner ditanyakan apa yang menjadi alasan mereka loyal bersantap di salah satu resto atau kafe, maka jawabannya tidak terlepas dari cita rasa unggul dari produk makanan maupun minuman yang dihasilkan.
Sehingga, tidak berlebihan bila suatu resto atau kafe dijadikan penikmat kuliner sebagai destinasi kuliner. Pasalnya, cita rasa merupakan poin penting dari semua penilaian, disusul hal-hal pendukung lainnya seperti kenyamanan, keramahan pelayanan, dan kebersihan lingkungan resto atau kafe tersebut.
Jika merujuk hal itu, tidak dapat disangkal bila posisi Waroenk Resto and Cafe yang berlokasi di Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, maupun Waroenk Podjok yang bernaung di bawah manajemen Waroenk, sudah dijadikan destinasi kuliner masyarakat Kota Kupang, bahkan ekspatriat dan wisatawan mancanegara (wisman) yang tengah berkunjung ke daerah berjuluk “Kota Sasando”.
Hal tersebut dapat dilihat dari pencapaian yang telah diraih manajemen Waroenk yang sukses menjadikan salah satu varian iganya, Nasi Iga Goreng Sambal Bawang sebagai salah satu menu ikonik di Kota Kupang.
Pasalnya, setelah diluncurkan bersama pembukaan Waroenk Oebufu pada 8 Juli 2017 lalu, Nasi Iga Goreng Sambal Bawang mendapat animo yang luar biasa dari penikmat kuliner.
Bahkan, Nasi Iga Goreng Sambal Bawang identik Waroenk Oebufu sehingga resto dan kafe berlogo “koki berkumis” tersebut dijadikan destinasi kuliner di Kota Kupang.
“Antusiasnya pelanggan mengunjungi resto dan kafe kami tidak lepas dari kontribusi produk kuliner unggul yang telah diluncurkan, Nasi Iga Goreng Sambal Bawang. Menu itu, hingga saat ini terus diburu pelanggan,” kata Marketing Communication and Representative Admin Waroenk Podjok dalam keterangan resminya di Waroenk Podjok, Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Kupang, Sabtu (6/4/2018).
Kendati sudah berhasil menciptakan menu ikonik, Noncy mengatakan pihaknya tidak lantas berpuas diri. Menurutnya, manajemen Waroenk Oebufu dan Waroenk Podjok terus meluncurkan menu inovatif yang tidak kalah dibandingkan menu sebelumnya.
“Pasalnya, hal itu merupakan visi awal manajemen kami yang akan terus diimplementasikan guna meraih pencapaian tertinggi perusahaan, yaitu customer satisfaction atau kepuasan pelanggan,” bebernya.
Dijelaskan, resto dan kafe yang memiliki jargon “Semuanya Enak, Harga Terjangkau” tersebut kembali meluncurkan varian iga yang diklaim tidak kalah lezatnya dibandingkan Nasi Iga Goreng Sambal Bawang, yaitu Iga Panggang Citrus.
“Varian iga terbaru kami ini sama lezatnya dengan Nasi Iga Goreng Sambal Bawang, tetapi lebih inovatif terutama dalam bumbu khas yang menambah kelezatan iga ini,” imbuh Noncy.
Dijelaskan, selain daging iganya yang empuk dan renyah, kelezatan iga yang diluncurkan bersamaan pembukaan Waroenk Podjok pada 2 Maret 2018 lalu itu tidak lepas dari baluran saus spesial yang “yummy”.
“Saus spesial ini memiliki sensasi tersendiri di lidah konsumen. Apalagi, kita ketahui jika varian daging iga di Waroenk Oebufu dan Waroenk Podjok sudah terkenal keempukannya,” jelasnya.
Noncy mengatakan, harga yang dibanderol untuk Iga Panggang Citrus cukup terjangkau Rp 50 ribu. “Seperti Iga Asap Hotplate dan Iga Rica Kemangi, menu ini termasuk ala carte. Porsinya cukup lumayan, dapat disantap berdua,” urainya.
Ia menambahkan, animo pelanggan Waroenk Podjok, khususnya penikmat kuliner yang menyukai varian iga, sangat apresiatif menyambut hadirnya Iga Panggang Citrus yang diluncurkan pihaknya.
“Varian iga dengan bahan citrus (jeruk) ini, masih menjadi salah satu best seller di Waroenk Podjok selain Iga Rica Kemangi. Jadi, yang ingin mencicipi varian iga yang mumpuni, bersantap saja di Waroenk Podjok,” kata Noncy.
Selain Iga Panggang Citrus, varian iga Waroenk Podjok di antaranya Iga Rica Kemangi, Asam Iga Seruni Rp 55 ribu, Iga Goreng Sambal Bengis Rp 50 ribu, Iga Asap Hotplate (Level 0-4) Rp 60 ribu, dan Iga Masak Kare Rp 45 ribu.

06 April 2018

Iga Rica Kemangi, sensasi cita rasa varian iga Waroenk Podjok

Selain penyajiannya yang unik dibungkus kertas foil agar panasnya tetap terjaga, Iga Rica Kemangi di Waroenk Podjok juga memiliki cita rasa pedas yang “menggigit”. / Effendy Wongso

britaloka.com, KUPANG - Salah satu alasan dijadikannya suatu resto dan kafe sebagai destinasi kuliner tidak lepas dari produk berkualitas yang dihasilkan. Cita rasa merupakan poin penting dari semua penilaian, disusul hal-hal pendukung lainnya.
Hal tersebut dapat dilihat dari pencapaian yang telah diraih manajemen Waroenk yang sukses menjadikan salah satu varian iganya, Nasi Iga Goreng Sambal Bawang sebagai salah satu menu ikonik di Kota Kupang.
Pasalnya, setelah diluncurkan bersama pembukaan Waroenk Oebufu pada 8 Juli 2017 lalu, Nasi Iga Goreng Sambal Bawang mendapat animo yang luar biasa dari penikmat kuliner.
Bahkan, Nasi Iga Goreng Sambal Bawang identik Waroenk Oebufu sehingga resto dan kafe berlogo “koki berkumis” tersebut dijadikan destinasi kuliner di Kota Kupang.
“Pelanggan mengunjungi resto dan kafe kami tidak lepas dari kontribusi produk kuliner unggul yang telah diluncurkan, Nasi Iga Goreng Sambal Bawang. Menu itu, hingga saat ini terus diburu pelanggan,” kata Marketing Communication and Representative Admin Waroenk Podjok dalam keterangan resminya di Waroenk Podjok, Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Kupang, Jumat (6/4/2018).
Meskipun sudah berhasil menciptakan menu ikonik, sebut wanita kelahiran Rote ini, pihaknya tidak lantas berpuas diri.
“Kami akan terus meluncurkan menu inovatif yang tidak kalah dibandingkan menu sebelumnya. Sebab, ini adalah visi manajemen kami, baik di Waroenk Oebufu maupun di Waroenk Podjok,” paparnya.
Dijelaskan, resto dan kafe yang memiliki jargon “Semuanya Enak, Harga Terjangkau” tersebut kembali meluncurkan varian iga yang diklaim tidak kalah lezatnya dibandingkan Nasi Iga Goreng Sambal Bawang, yaitu Iga Rica Kemangi.
“Varian iga terbaru kami ini sama lezatnya dengan Nasi Iga Goreng Sambal Bawang, tetapi lebih inovatif terutama dalam penyajiannya,” imbuh Noncy.
Menurutnya, selain penyajiannya yang unik dibungkus kertas foil agar panasnya tetap terjaga, Iga Rica Kemangi juga memiliki cita rasa pedas yang “menggigit”.
“Seperti kita ketahui, racikan makanan ini diperkaya penggunaan bumbu rica-rica khas Manado yang memang terkenal pedasnya. Apalagi, aroma harum dari bahan iga yang digoreng berpadu kemangi menambah wangi makanan ini,” beber Noncy.
Ia menyebut, harga yang dibanderol untuk Iga Rica Kemangi cukup terjangkau Rp 50 ribu. “Menu ini termasuk ala carte, dengan porsi lumayan yang dapat disantap berdua,” katanya.
Menurut Noncy, pelanggan Waroenk Podjok khususnya penikmat kuliner yang menyukai varian iga, sangat apresiatif menyambut hadirnya Iga Rica Kemangi yang diluncurkan pihaknya bersama pembukaan Waroenk Podjok pada 2 Maret 2018 lalu.
Dijelaskan, selain Iga Rica Kemang, varian iga lain yang ditawarkan pihaknya antara lain Asam Iga Seruni Rp 55 ribu, Iga Goreng Sambal Bengis Rp 50 ribu, Iga Asap Hotplate (Level 0-4) Rp 60 ribu, Iga Panggang Citrus Rp 50 ribu, dan Iga Masak Kare Rp 45 ribu.

05 April 2018

Bakmi Goreng Jawa Waroenk Podjok, menu tradisional yang selalu dirindukan


Jika ada makanan yang demikian dirindukan, maka salah satunya adalah Bakmi Goreng Jawa. Pasalnya, kuliner Nusantara yang biasa disebut “mie jawa” atau atau dalam bahasa Jawa “bakmi godhog”, memang “kangenin” berkat cita rasanya yang khas. / Effendy Wongso
britaloka.com, KUPANG – Jika ada makanan yang demikian dirindukan, maka salah satunya adalah Bakmi Goreng Jawa. Pasalnya, kuliner Nusantara yang biasa disebut “mie jawa” atau atau dalam bahasa Jawa “bakmi godhog”, memang “kangenin” berkat cita rasanya yang khas.
“Tipikal makanan ini tidak lepas dari penggunaan bahan mie yang dimasak dengan bumbu tradisional khas Jawa. Jadi, jika dua bahan utama yang dikolaborasi dalam bentuk makanan seperti Bakmi Jawa ini, maka rasanya akan ‘melekat’ di lidah penikmat kuliner,” kata Marketing Communication and Representative Admin Waroenk Podjok, Noncy Ndeo dalam keterangan resminya di Waroenk Podjok, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Kupang, Kamis (5/4/2018) sore
Wanita kelahiran Rote ini menguraikan, tidak hanya penggunaan dua bahan makanan tersebut yang berkontribusi menangangkat cita rasa lezatnya, tetapi juga berkat penggunaan sayur-sayuran yang bergizi, juga irisan ayam kampung dan telur dadar sebagai isi.
“Apalagi, mie yang kami gunakan adalah mie berkualitas yang terbuat dari tepung dan telur ayam pilihan,” ujar Noncy.
Sejak diluncurkan pada 2 Maret 2018 lalu, Bakmi Goreng Jawa selalu dicari pelanggan. Tidak hanya penikmat kuliner lokal maupun domestik, namun beberapa pelanggan ekspatriat Waroenk Podjok juga selalu memesan makanan sejuta umat itu.
Terbukti, sebut Noncy, hal tersebut dapat dilihat dari daftar permintaan pelanggan yang merajai list pesanan makanan pihaknya. “Yang pasti, Bakmi Goreng Jawa ini masuk dalam best seller di Waroenk Podjok yang tidak kalah dengan makanan sejuta umat lainnya seperti nasi goreng,” beber Noncy.
Ditambahkan, Bakmi Goreng Jawa dibanderol terjangkau Rp 27.500. “Itulah sebabnya, dari sekian banyak menu modern tetapi Bakmi Jawa yang notabene tradisional ini tetap diburu pelanggan di Waroenk Podjok,” imbuh Noncy.
Terkait perbandingan cita rasa dengan varian mie lainnya seperti Dragon Hot Chicken Ramen, Noodle Tower, Spicy Chicken Hotplate Noodle, Charsiew Hotplate Noodle, wanita yang kebetulan senang makan mie ini mengatakan, ingredient-nya dan takarannya tetap terjaga.
“Kebanyakan bahan mie di Waroenk Podjok adalah hand made. Sehingga, menu-menu berbahan mie tetap dapat dijaga kualitasnya. Jadi, tidak ada penurunan kualitas. Chef kami mengamati secara baik, sebab mutu dan higienitasnya adalah nomor satu,” kata Noncy.
Ia berharap, dengan hadirnya Bakmi Goreng Jawa dan berbagai makanan tradisional lainnya, pihaknya dapat mengakomodir kerinduan penikmat kuliner yang ingin mencicipi eksotisme cita rasa kuliner Nusantara.
“Ya, silakan ke resto dan kafe berlogo ‘koki berkumis’ Waroenk Podjok, sebab kami memiliki sekitar 90 varian makanan,” ujarnya.
Sekadar diketahui, Bakmi Goreng Jawa banyak dijajakan di Yogyakarta dan kota-kota di Jawa Tengah lainnya seperti Magelang, Purwokerto, Semarang, Solo, dan lainnya.
Beberapa pengamat kuliner mengklaim jika Desa Piyaman, Wonosari, Gunungkidul merupakan tempat asal pelaku kuliner Bakmi Goreng Jawa atau “bakmi Jawa” ini, yang kemudian menjualnya di berbagai kota besar Indonesia.
Kebanyakan, penjual Bakmi Goreng Jawa di Yogyakarta berdagang mulai pada sore, dengan meletakkan gerobak tempat memasak di depan tempat usaha mereka.
Beberapa catatan terkait kuliner, menyebut pedagang Bakmi Goreng Jawa di Yogyakarta yang ramai dikunjungi pembeli di antaranya Bakmi Pak Pele di Alun-alun Utara, Bakmi Kadin, Bakmi Mbah Hadi Terban, Bakmi Mbah Mo di Desa Code, Trirenggo, Bantul, dan Bakmi Mbah Wito di Desa Piyaman, Wonosari, Gunungkidul.
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebelum terpilih sebagai presiden keenam Republik Indonesia (RI), dikabarkan sering bersantap di Warung Bakmi Mbah Wito di Wonosari, Gunungkidul.
Sementara, almarhum presiden kedua RI, Soeharto dulunya merupakan salah seorang pelanggan loyal di Harjo Geno di Pasar Prawirotaman, Yogyakarta. Ketika Soeharto masih menjabat presiden, Bakmi Kadin diundang untuk memasak di Istana Negara setiap peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI.

Iga Asap Hotplate Waroenk Podjok, penyajian unik dalam piring baja panas


Setelah sukses meluncurkan menu berbahan iga seperti Nasi Iga Goreng Sambal Bawang, Waroenk Resto and Cafe di Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang yang menaungi Waroenk Podjok di Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Kupang, kembali meluncurkan makanan berbahan iga lainnya, yaitu Iga Asap Hotplate (Level 0-4). / Effendy Wongso
britaloka.com, KUPANG – Setelah sukses meluncurkan menu berbahan iga seperti Nasi Iga Goreng Sambal Bawang, Waroenk Resto and Cafe di Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang yang menaungi Waroenk Podjok di Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Kupang, kembali meluncurkan makanan berbahan iga lainnya, yaitu Iga Asap Hotplate (Level 0-4).
Seperti diketahui, Nasi Iga Goreng Sambal Bawang yang diluncurkan manajemen resto dan kafe berlogo “koki berkumis” tersebut sudah menjadi menu ikonik di daerah berjuluk “Kota Sasando”.
Hal itu diungkapkan Marketing Communication and Representative Admin Waroenk Podjok, Noncy Ndeo dalam keterangan resminya, Kamis (5/4/2018).
Menurutnya, Iga Asap Hotplate (Level 0-4) dihadirkan pihaknya untuk mengakomodir animo penikmat kuliner terhadap makanan berbahan iga yang sudah diluncurkan bersamaan pembukaan Waroenk Podjok pada 2 Meret 2018 lalu.
“Nasi Iga Goreng Sambal Bawang sangat digemari pelanggan kami. Bahkan, makanan ini paling laris di antara menu-menu kami yang lainnya. Untuk itulah, kami menghadirkan makanan berbahan iga lainnya yang tidak kalah lezatnya, Iga Asap Hotplate (Level 0-4),” kata Noncy.
Ia menjelaskan, selain lezat Iga Asap Hotplate (Level 0-4) juga memiliki keunikan tersendiri, khususnya dalam penyajiannya yang menggunakan “hotplate” atau piring baja.
“Tujuan penggunaan hotplate agar makanan yang berada dalam wadah ini tetap panas. Jadi, jangan heran kalau saat disajikan di atas meja pelanggan, makanan tetap mengepulkan asap. Ini sensasi tersendiri dalam menyantap makanan yang fresh,” imbuh Noncy.
Wanita muda kelahiran Rote ini mengatakan, Iga Asap Hotplate (Level 0-4) merupakan kuliner bercita rasa lokal yang dikemas ala Barat. Adapun harga yang dibanderol untuk makanan yang memiliki tingkat kepedasan tersendiri hingga level empat ini, sebut Noncy, sangat terjangkau Rp 60 ribu.
“Sangat terjangkau, bayangkan harga-harga menu steik yang ditawarkan resto hotel-hotel berbintang yang bisa mencapai Rp 100 ribu-Rp 175 ribu. Lagi pula, Iga Asap Hotplate bisa dikonsumsi segala usia, anak-anak hingga dewasa. Sebab, untuk konskumsi anak-anak boleh memilih yang tidak pedas di level nol, sementara yang menyukai pedas boleh memilih level satu hingga empat sesuai tingkat kepedasan,” paparnya.
Noncy menambahkan, Iga Asap Hotplate (Level 0-4) menggunakan daging segar pilihan bercampur saus barbeque (BBQ) pedas atau tidak pedas untuk level nol, serta kentang goreng.
“Pastinya diteliti dulu tingkat freshnya, baik atau tidak pasti dicek dulu dagingnya sesuai standart operational prosedural (SOP). Pasalnya, kualitas harus benar-benar diutamakan,” ujarnya.
Sekadar diketahui, hotplate merupakan inovasi lain dari sebuah piring penyaji makanan yang terbuat dari baja. Hotplate sering digunakan beberapa pengusaha kuliner untuk menyajikan aneka makanan seperti steik, spageti atau lebih sering disebut spaghetti, nasi goreng, cah kangkung, dan lain-lain.
Lantaran sifatnya yang mampu menahan panas selama kurun waktu tertentu, piring baja ini cocok untuk menyajikan makanan yang nikmat disantap saat kondisi panas seperti steik.

03 April 2018

Nasi Goreng Bistik Ayam Waroenk Podjok, paduan menu Indonesia-western yang sudah melegenda

Sesuai visi perusahaan yang senantiasa menghadirkan menu-menu lezat, unik, dan beda, maka Waronk Podjok yang berada di bawah manajemen Waroenk (Oebufu) pun tidak ketinggalan mengangkat Nasi Goreng Bistik Ayam. / Effendy Wongso

britaloka.com, KUPANG - Kata “legenda”, tidak hanya ditujukan kepada seseorang yang telah mengimplementasikan suatu hal yang dianggap penting, seperti tokoh patriotik yang telah mengharumkan nama bangsa dan lain sebagainya.
Legenda, boleh saja dirujuk bagi suatu benda bila dianggap sarat terkait popularitas tidak terkecuali dalam dunia kuliner. Lantaran sangat terkenal dan dianggap monumental, Nasi Goreng Bistik Ayam merupakan salah satu makanan yang paling diburu di Indonesia.
Hal tersebut diungkapkan Marketing Communication and Representative Admin Waroenk Podjok, Noncy Ndeo dalam keterangan resminya di Waroenk Podjok, Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Kupang, Selasa (3/4/2018).
Menurutnya, Nasi Goreng Bistik Ayam yang sebelumnya sudah sangat populer di daerah Jawa Barat, tepatnya Bandung, memiliki cita rasa dan keunikan tersendiri. Pasalnya, masakan yang diracik dengan cara digoreng tersebut merupakan kuliner Indonesia dan western yang sudah terkenal di daerah masing-masing.
“Kalau nasi goreng, siapa sih yang tidak tahu? Soalnya menu ini merupakan menu sejuta umat Indonesia yang bermuasal dari Asia (Tiongkok). Begitu pula bistik (ayam) yang merupakan menu western yang sudah mengglobal. Jadi, jika berpadu dalam satu racikan, tentu tidak perlu lagi diragukan kelezatannya,” papar Noncy.
Ia menambahkan, sesuai visi perusahaan yang senantiasa menghadirkan menu-menu lezat, unik, dan beda, maka Waronk Podjok yang berada di bawah manajemen Waroenk (Oebufu) pun tidak ketinggalan mengangkat Nasi Goreng Bistik Ayam.
“Jika Anda sebelumnya mengenal bistik berharga selangit di hotel-hotel bintang lima, maka dengan kehadiran menu ini di Waroenk Podjok, semua kalangan dapat menikmatinya dengan harga terjangkau. Soalnya, kami hanya membanderol Nasi Goreng Bistik Ayam Rp 32.500,” imbuh Noncy.
Dijelaskan, kelezatan menu yang masuk dalam varian Asian and Japanese Corner pihaknya tidak terlepas dari potongan ayam fillet renyah, sayuran, dan saus bistik berkualitas yang digunakan dalam mengolah makanan tersebut.
Noncy mengatakan, Nasi Goreng Bistik Ayam diluncurkan bersama sekitar 90 menu lainnya di Waroenk Podjok pada 2 Maret 2018 lalu.
“Dengan beragam menu lezat dan unik yang hadir, kami berharap penikmat kuliner di Kota Kupang, dapat merasakan dan mencicipi sensasi berbeda makanan yang kami hadirkan dengan harga terjangkau,” ujarnya.
Sekadar diketahui, Nasi Goreng Bistik Ayam atau kerap disebut Nasi Bistik Ayam saja, sudah sangat populer di Bandung pada era 1990-an. Sebelumnya, pada era 1980-an, makanan itu juga populer sebagai “bistik” (daging sapi atau ayam) saja, dan belum kolaboratif dengan nasi goreng yang menjadi cikal bakal Nasi Goreng Bistik Ayam.
Sehingga, kendati sudah populer namun menu bistik tersebut hanya dapat dinikmati di hotel-hotel berbintang dan dikonsumsi para ekspatriat dan orang dengan strata ekonomi menengah ke atas.
Pada era 1990-an, makanan ini dijajakan secara independen di pinggir jalan dengan gerobak oleh seorang pelaku kuliner yang sebelumnya pernah bekerja di restoran hotel mewah. Pada waktu itu, jualannya juga hanya pada petang dan malam hari.
Dalam perkembangannya, ia mengolah masakan ini secara kreatif dan memadukan menu western berupa bistik dan menu Indonesia berupa nasi goreng, sehingga populer di kalangan proletariat atau masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah. Kepopuler menu tersebut tidak terlepas dari harganya yang terjangkau.

02 April 2018

Yo Mango, varian moctails Waroenk yang sangat digemari pelanggan

Minuman "Yo" berbahan yoghurt, sirup, soda, dan biji selasih Waroenk juga menyediakan taste lain, di antaranya Yo Berry dengan rasa buah buni dan Yo Peach dengan rasa buah persik. / Effendy Wongso

britaloka.com, KUPANG – Dalam dunia kuliner, ada anekdot yang mengatakan, saat bersantap orang bisa makan tetapi tidak bisa tanpa minum, namun orang bisa minum tanpa bersantap.
Memang secara alami, manusia setelah makan harus minum. Inilah yang mendorong pelaku kuliner, apapun bentuk usahanya selalu menyiapkan minuman untuk pelanggannya.
Dari segi bisnis, dengan hadirnya minuman tentu mendorong grafik penjualan sebuah resto atau kafe yang menawarkan makanan sebagai jualan utama.
Sebagai resto dan kafe representatif yang sudah menjadi destinasi kuliner di Kota Kupang, Waroenk tentu juga menyediakan minuman. Salah satu item minuman dalam varian moctails adalah Yo Mango yang dibanderol Rp 23 ribu.
“Selain Yo Mango, minuman ‘Yo’ berbahan yoghurt, sirup, soda, dan biji selasih ini juga menyediakan taste lain, di antaranya Yo Berry dengan rasa buah buni dan Yo Peach dengan rasa buah persik,” papar Public Relation and Representative Admin Waroenk Resto and Cafe, Merlin Sinlae dalam keterangan resminya di Waroenk, Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang, Senin (2/4/2018)
Menurutnya, selama diluncurkan 8 Juli 2017 lalu, ketiga minuman Yo ini sangat digemari pelanggan.
“Alasan disukainya minuman ini, seperti yang kami dengan dari komentar para pelanggan, tidak lepas dari ‘sensasi’ rasa manis dari sirup dan sedikit asam dari yoghurt bersatu dalam satu minuman. Selain itu, moctails jenis Yo ini baru pertama di Kupang,” imbuh Merlin.
Alasan lainnya, penyajian Yo Mango/Berry/Peach juga terbilang “lucu”. Lucu yang dimaksud Merlin adalah keunikan “tampilan” minuman yang disajikan pihaknya.
“Unik, karena ‘tampilan’ wadah (botol) yoghurt yang menggelantung pada ujung sedotan di bibir gelas. Ini memang yang diinginkan kids (anak muda) zaman now yang senang berfoto selfie (swafoto) dengan objek makanan maupun minuman sebelum bersantap,” ujarnya.
Merlin menambahkan, gaya makan anak muda, bahkan penikmat kuliner pada umumnya, tidak lagi sekadar bersantap tetapi menjadikan kegiatan bersantap sebagai ‘gaya hidup’.
“Dalam dunia kuliner kekinian, hal itu (selfie dengan objek makanan/minuman kemudian mengunggahnya di akun media sosial) disebut ‘dine with style’. Sehingga, hal itulah yang mendorong pihak kami untuk menghadirkan produk (makanan dan minuman) yang tidak saja bercita rasa lezat dan unik, tetapi juga memiliki nilai estetik,” tutupnya.

01 April 2018

Noodle Tower Waroenk Podjok, paduan mie kering dan ifu mie yang unik


Noodle Tower Waroenk Resto and Cafe. Dalam jajaran Noodle and Vegetable Corner di Waroenk Podjok, mie tidak ketinggalan menghiasi daftar menu yang ada. / Effendy Wongso 
britaloka.com, KUPANG - Salah satu makanan yang paling banyak dikonsumsi setelah varian nasi adalah mi. Mi yang lebih sering disebut “mie” sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kuliner Indonesia, bahkan penikmat kuliner dunia.
Dalam jajaran Noodle and Vegetable Corner di Waroenk Podjok, mie tidak ketinggalan menghiasi daftar menu yang ada.
Varian mi tersebut di antaranya Tower Noodle yang dibanderol Rp 35 ribu, Iga Hotplate Noodle Rp 65 ribu, Charsiew Hotplate Noodle Rp 35 ribu, Katsu Ramen Rp 25 ribu, Chicken Popcorn Ramen Rp 27.500, Dragon Hot Chicken Ramen Rp 25 ribu, Katsu Hotplate Noodle Rp 32.500, Bakmi Goreng Jawa Rp 27.500, dan Spicy Chicken Hotplate Noodle Rp 30 ribu
“Di antara makanan berbahan mie yang semuanya disukai pelanggan, Noodle Tower terbilang unik karena selain bentuknya yang lain dibandingkan mie biasa (berbentuk menara), juga karena merupakan kombinasi antara mie kering dan ifu mie,” papar Marketing Communication and Public Relation Waroenk Podjok, Noncy Ndeo dalam keterangan resminya di Waroenk Podjok, Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Kupang, Sabtu (31/3/2018).
Menurutnya, makanan dengan isi selain mie berbentuk tower pihaknya, juga diimbuhi bahan makan lain yang gurih seperti kuah telur, sayuran, dan telur puyuh.
“Masakan berbahan mie boleh dibilang sudah umum di Kota Kupang, tetapi Noodle Tower yang kami tawarkan ini boleh dikatakan pionir sebab sebelumnya belum ada yang meluncurkannya. Selain itu, kombinasi mie kering yang sebelumnya populer di Makassar kami padukan dengan ifu mie Tiongkok yang sudah populer di dunia,” klaim Noncy.
Wanita muda kelahiran 1994 ini menambahkan, kombinasi versi mie kering Makassar dan ifu mie itulah yang berkontribusi menambah kelezatan Noodle Tower Waroenk Podjok.
“Jadi, tidak bisa kami pungkiri jika versi mie kering yang sangat populer di Makassar kami padukan ifu mie Tiongkok inilah yang menghadirkan sensasi cita rasa yang berbeda dibandingkan mie-mie goreng berkuah pada umumnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, animo pelanggan terhadap Noodle Tower selama ini cukup apresiatif. Hal tersebut terlihat dalam daftar permintaan pelanggan yang menempati posisi teratas untuk kategori Noodle and Vegetable Corner.
“Bahkan, pelanggan banyak yang selfie (swafoto) bersama makanan ini sebelum disantap. Ini tidak terlepas dari keunikan bentuk Noodle Tower,” imbuh Noncy.
Sekadar diketahui, ifu mie adalah sejenis makanan Tionghoa. Makanan ini berbentuk bakmie yang telah direbus lalu digoreng hingga garing berbentuk “sarang burung”. Selanjutnya, di atasnya disiram dengan tumisan sayuran serupa cap cay.
Sementara, mie kering atau lebih dikenal sebagai mie kering Makassar adalah masakan Tiongkok yang sudah beradaptasi dengan Tionghoa Indonesia. Jenis mie kering ini disajikan dengan saus kental dan irisan ayam atau daging sapi. Beberapa pelaku kuliner mengombinasikannya dengan bahan daging lain seperti udang, jamur, hati ayam, dan cumi.
Makanan ini sangat mirip ifu mie Tiongkok, namun bedanya hanya terletak pada mienya lebih tipis.
Mie kering Makassar juga kerap disebut “Mie Titi”. Pasalnya, resep mie kering Makassar dibuat keluarga Tjao yang secara temurun menurunkan resep itu ke anak-anaknya.
Tjao yang sering dipanggil Angko (kakak laki-laki dalam bahasa Mandarin) Tjao, awalnya membuka toko mie di kawasan pecinan Makassar untuk menjual mie keringnya. Mie kering yang dijual Tjao sangat digemari penikmat kuliner Makassar, dan sangat populer di awal 1970-an.
Tjao mewariskan pengetahuan terkait resep makanan ini kepada tiga anaknya, Hengky, Awa, dan Titi. Setelah Tjao meninggal, bisnis warung mie kering dilanjutkan ketiga anaknya yang mandiri membuka warung masing-masing.
Anak Tjao, Titi paling populer di Makassar sehingga di sinilah asal nama Mie Titi menjadi identik dengan mie kering Makassar.
Mie Kering adalah salah satu hidangan Makassar yang paling terkenal selain Coto Makassar dan Sop Konro.